TVRINews, Majalengka
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono menyebut Program Gentengisasi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kualitas hunian, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan kebudayaan dan warisan tradisi masyarakat Indonesia.
Menurut Sugiono, penggunaan genteng tanah liat memiliki hubungan dengan upaya mengembalikan pemanfaatan unsur alam dalam kehidupan masyarakat, termasuk pada bangunan tempat tinggal.
"Sesuai dengan tema Gentengisasi, ada kaitannya dengan kebudayaan. Kita memiliki warisan budaya turun-temurun dan ini adalah bukti bahwa dalam rangka menjaga kelestarian budaya yakni mengembalikannya dengan unsur alam adalah dengan Program Gentengisasi," ujar Sugiono saat peluncuran pengiriman 2,4 juta genteng produksi Jatiwangi di Lapangan Pasar Lama Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Minggu, 8 November 2026.

(dok. Kementerian PKP)
Program Gentengisasi merupakan bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Melalui program tersebut, pemerintah mendorong penggunaan genteng untuk memperbaiki kualitas dan estetika kawasan permukiman.
Presiden Prabowo menargetkan Indonesia dapat terbebas dari penggunaan atap seng berkarat dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun.
Genteng tanah liat menjadi salah satu alternatif yang didorong pemerintah untuk meningkatkan kenyamanan hunian sekaligus mengoptimalkan potensi industri lokal.
Dari sisi kenyamanan, genteng tanah liat dinilai memiliki kemampuan menyerap dan menghambat perpindahan panas serta membantu meredam kebisingan saat hujan. Penggunaannya diharapkan dapat mendukung terciptanya rumah yang lebih nyaman dan layak huni.
Peluncuran Program Gentengisasi di Jatiwangi ditandai dengan dimulainya pengiriman 2,4 juta genteng hasil produksi masyarakat Majalengka ke berbagai wilayah Indonesia.
Pengiriman tahap awal melibatkan sekitar 450 unit truk, dengan total armada yang direncanakan mencapai 600 truk. Distribusi akan menjangkau 27 kabupaten/kota, termasuk wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.
Genteng tersebut disiapkan untuk mendukung berbagai program perumahan, terutama program bedah rumah yang dilaksanakan pemerintah daerah.
Pengiriman juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan perumahan di Majalengka serta mendukung kerja sama dengan pengembang dan mitra swasta.
Program ini melibatkan 34 unit usaha kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Majalengka, khususnya Kecamatan Jatiwangi. Seluruh 34 UMKM tersebut telah mengantongi sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), sementara 11 UMKM lainnya masih dalam proses sertifikasi.
Pemerintah memproyeksikan kebutuhan genteng produksi Majalengka meningkat dari 2,4 juta menjadi 3 juta unit untuk menyambut Gerakan Indonesia ASRI 2027.
Pengembangan program juga direncanakan berlanjut ke sentra industri genteng lainnya, termasuk Kebumen, Jawa Tengah, dan Trenggalek, Jawa Timur.
Nuansa budaya lokal turut mewarnai peluncuran program tersebut. Kegiatan diawali dengan tradisi liwetan yang diikuti para pengemudi truk, kernet, pengrajin genteng, masyarakat, dan pelaku UMKM. Acara juga dimeriahkan pertunjukan Tari Topeng Wuwung Kawangi oleh Sanggar Ranca-Ge.
Dalam kegiatan tersebut, Kabupaten Majalengka menerima penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas rekor pengiriman genteng terbanyak untuk produksi genteng Jatiwangi.
Selain peluncuran pengiriman genteng, Kementerian PKP juga menyerahkan mock-up Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan secara simbolis kepada delapan debitur serta Sertipikat Rumah Gratis kepada delapan penerima manfaat.
Melalui Program Gentengisasi, pemerintah berharap penggunaan material berbasis potensi lokal dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hunian, penguatan industri genteng, dan pelestarian warisan budaya masyarakat.










