TVRINews, Bantul
Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19 Bantul terus berupaya membentuk karakter dan memperluas kesempatan bagi pelajar dari keluarga kurang mampu. Hal itu disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Puti Alifia Artalani, saat ditemui di SRMA 19 Bantul, Kecamatan Kasihan, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Puti mulai mengajar sejak 14 Juli 2025, tepat ketika sekolah rakyat tersebut resmi diluncurkan. Sebelumnya ia merupakan guru honorer di SMA Negeri 2 Bantul.
Tantangan: Siswa Belum Berani Bermimpi
Puti menjelaskan bahwa tantangan terbesar bukan pada aspek akademik, melainkan mental para siswa. Berbeda dengan sekolah reguler, SRMA menerima anak-anak dari keluarga kurang mampu yang masih memiliki keterbatasan dalam membangun cita-cita.
“Anak-anak ini bahkan bermimpi saja belum berani. Maka kami tidak hanya mengajar akademik, tapi juga mental mereka. Motivasi belajarnya masih sangat terbatas,”kata Putu dalam keterangan yang diterima tvrinews di Bantul, DIY, Selasa, 2 Desember 2025.
Para guru yang mayoritas masih muda harus berinovasi untuk membangkitkan semangat belajar siswa.
“Kami punya trik agar mereka termotivasi. Pelan-pelan mereka mulai belajar dan percaya diri,”lanjutnya.
Dukungan Eksternal Dibutuhkan untuk Membuka Wawasan Siswa
Puti menilai dukungan dari pihak luar sangat penting agar siswa melihat lebih banyak peluang hidup. Ia mencontohkan program Kemenkeu Mengajar yang baru-baru ini dilaksanakan di SRMA 19 Bantul.
“Anak-anak jadi tahu dunia keuangan dan pekerjaan yang bisa mereka capai. Mereka sadar bahwa walaupun berasal dari keluarga miskin, mereka tetap bisa menjadi seseorang,”tambahnya.
Menurutnya, motivasi dari figur-figur sukses sangat membantu membangkitkan kepercayaan diri siswa.
“Kalau cuma dari guru, mereka kadang mikir ‘Ibu kan orang mampu’. Tapi kalau cerita dari orang-orang besar, mereka lebih termotivasi,”ucapnya.
Tiga Bulan Pertama Tanpa Akademik: Fokus Pembentukan Karakter
Saat pertama menerima siswa, kondisi mereka masih sangat “mentah”, terutama dalam perilaku. Karena itu, selama tiga bulan pertama, sekolah tidak langsung mengajarkan akademik, melainkan membangun karakter dasar.
“Selama tiga bulan itu fokusnya cara hidup yang baik, berkepribadian, memanusiakan manusia. Kami ajarkan etika dari bangun pagi sampai tidur,” jelasnya.
Perubahan signifikan terlihat setelah tiga bulan pembiasaan.
“Awalnya kalau makan kaki diangkat, sering teriak, sering berantem. Tapi sekarang mereka sudah tahu adab makan, sopan ke guru, dan lebih tertib,”ungkapnya.
Harapan: Mengubah Pola Pikir Keluarga
Puti mengungkapkan harapannya tanpa berlebihan. Menurutnya, tujuan utama SRMA bukan hanya menjadikan siswa sukses secara akademik, melainkan mengubah pola pikir keluarga mereka.
“Saya ingin anak-anak ini mengubah pola pandang hidup keluarganya. Kalau pola pikirnya berubah, mereka bisa meningkatkan derajat keluarganya,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan siswa bukan harus menjadi profesi tertentu, tetapi membentuk generasi yang lebih baik dari sebelumnya.
Apresiasi untuk Pemerintah, Namun Butuh Dukungan Lanjutan
Puti menyampaikan bahwa pemerintah sudah memberikan banyak dukungan, namun masih diperlukan penguatan untuk menjawab skeptisisme sebagian masyarakat yang belum memahami konsep sekolah rakyat.
“Masih ada yang bilang sekolah rakyat itu ‘sekolah orang miskin’. Mereka belum tahu perubahan anak-anak di dalamnya. Setelah saya lihat sendiri, saya percaya anak-anak ini bisa berubah,”kata Puti.
Ia berharap pemerintah terus memberi dukungan agar program Sekolah Rakyat bisa semakin kuat dan diterima masyarakat luas.










