TVRINews, Banda Aceh
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Ferdiyus menyoroti bahwa selain faktor hoaks dan keraguan masyarakat, tantangan geografis dan akses layanan kesehatan masih menjadi hambatan signifikan dalam capaian imunisasi di Aceh, terutama di wilayah terpencil.
Ia menjelaskan, sejumlah daerah di Aceh memiliki kondisi geografis yang sulit dijangkau, sehingga masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 untuk mencapai fasilitas kesehatan.
“Di beberapa wilayah seperti Gayo Lues, perjalanan ke puskesmas bisa memakan waktu hingga 2,5 jam dan tidak tersedia transportasi umum. Ini menjadi pertimbangan bagi masyarakat,”kata Ferdiyus dalam keterangan yang diterima tvrinews, Kamis, 21 Mei 2026.
Kondisi ini membuat sebagian keluarga menunda atau bahkan tidak membawa anak mereka ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi, terutama ketika aktivitas ekonomi seperti berkebun menjadi prioritas utama.
Ferdiyus menyebut, meski saat ini sebagian besar fasilitas puskesmas sudah lebih mudah diakses karena infrastruktur jalan yang membaik, tantangan di wilayah pedalaman masih cukup besar.
Untuk menjawab hambatan tersebut, Dinas Kesehatan Aceh kini memperkuat strategi jemput bola dengan menurunkan tim kesehatan langsung ke desa-desa, terutama di wilayah yang sulit dijangkau.
Pola layanan ini dilakukan secara terintegrasi, dengan melibatkan berbagai program seperti imunisasi, pemberian makanan tambahan (PMT) balita, hingga layanan kesehatan dasar lainnya dalam satu kunjungan lapangan.
“Sekarang kita balik, bukan masyarakat yang selalu datang ke puskesmas, tapi petugas yang turun langsung ke desa,” jelasnya.
Upaya ini telah disosialisasikan ke 366 puskesmas di Aceh, dengan harapan dapat meningkatkan cakupan imunisasi sekaligus menekan angka zero dose di wilayah-wilayah terpencil yang selama ini menjadi tantangan utama layanan kesehatan.










