TVRINews, Jakarta
Anggota Tim Pengawasan (Timwas) Haji DPR RI Nurdin Halid menilai penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 menunjukkan peningkatan kualitas layanan yang signifikan bagi jemaah Indonesia di Arab Saudi. Perubahan tersebut dinilai mulai terasa sejak pembentukan Kementerian Haji dan Umrah oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dalam keterangannya dari Madinah, Arab Saudi, Rabu, 20 Mei 2026, Nurdin mengatakan pelaksanaan haji tahun ini berbeda dibanding musim haji sebelumnya, baik dari sisi persiapan maupun pelayanan di lapangan.
“Dari pengamatan saya mulai dari pemberangkatan di bandara Soekarno Hatta sampai kedatangan di Jeddah semuanya berjalan lancar dan baik tanpa kendala yang berarti seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang menggembirakan, pendekatan petugas kini lebih dekat, lebih ramah, penuh perhatian dan respek. Petugas bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi melayani dengan hati, terutama terhadap jemaah perempuan dan lansia,” ujar Nurdin Halid, Kamis, 21 Mei 2026.
Nurdin menilai perubahan mendasar itu merupakan hasil kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang membentuk kementerian khusus haji dan umrah. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 92 Tahun 2025 dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025, pengelolaan haji dan umrah dialihkan dari Kementerian Agama ke Kementerian Haji dan Umrah.
“Kementerian Haji dan Umrah kini berdiri sendiri dengan sumber daya yang menjangkau hingga tingkat kabupaten/kota, sehingga pengawasan dan pelayanan lebih fokus dan profesional. Jadi, penyelenggaraan ibadah haji 2026 menjadi babak baru dengan standar baru setelah dialihkannya pengelolaan haji dari Kementerian Agama ke Kementerian Haji dan Umrah,” ujar Nurdin.
Ia menyebut sejumlah terobosan dilakukan Kementerian Haji dan Umrah, mulai dari penurunan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) menjadi Rp87,4 juta hingga penyediaan hotel setara bintang lima bagi jemaah reguler.
“Pemerintah menetapkan BPIH tahun 2026 sebesar Rp 87,4 juta per jemaah. Hal ini merupakan bentuk penyesuaian untuk sedikit meringankan beban jemaah,” ujar Nurdin.
Menurut Wakil Ketua Komisi VI DPR RI itu, peningkatan fasilitas akomodasi menjadi salah satu terobosan paling mencolok dalam sejarah penyelenggaraan haji Indonesia.
“Ini terobosan bersejarah. Penggunaan hotel-hotel premium untuk jemaah reguler menunjukkan adanya peningkatan standar layanan. Jemaah reguler sekarang bisa merasakan fasilitas hotel yang selama ini identik dengan layanan premium. Artinya ada keseriusan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan,” katanya.
Selain itu, jemaah haji Indonesia kini diberi kebebasan memilih jenis pelaksanaan ibadah haji, baik Ifrad, Qiran, maupun Tamattu’. Ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Kementerian Haji dan Umrah beserta mekanisme pembayaran dam yang resmi dan terstandar.
Nurdin juga menyoroti kebijakan afirmatif bagi kelompok rentan, terutama perempuan dan lansia, melalui prioritas layanan medis dan pendampingan yang lebih intensif.
Ia menilai implementasi layanan Mecca Route atau jalur cepat keimigrasian turut mempercepat perjalanan jemaah sejak dari Indonesia hingga tiba di Arab Saudi. Melalui skema tersebut, proses imigrasi Arab Saudi dilakukan di bandara keberangkatan di Tanah Air sehingga jemaah tidak perlu lagi mengantre saat tiba di Arab Saudi.
“Terobosan ini sangat dirasakan manfaatnya bagi jemaah, terutama lansia dan mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Setelah tiba, jemaah bisa langsung beristirahat tanpa harus melalui proses imigrasi yang panjang. Selain mempercepat layanan, sistem fast track ini juga membantu mengurangi kepadatan di bandara kedatangan sehingga mobilitas jemaah menjadi lebih lancar,” kata Nurdin.
Kader senior Partai Golkar itu berharap peningkatan layanan seperti Mecca Route, pendampingan jemaah, serta standar pelayanan administrasi, transportasi, akomodasi, dan katering dapat terus diperluas pada musim haji mendatang.
“Berbagai perubahan dalam penyelenggaraan haji tahun ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghadirkan layanan yang lebih baik bagi umat. Negara benar-benar hadir untuk melayani jemaah. Semangatnya bukan hanya menjalankan operasional haji, tetapi memastikan jemaah merasa aman, nyaman, dan dimuliakan selama beribadah,” pungkas Nurdin.










