TVRINews, Jakarta
Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB) melakukan pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa Candi Borobudur untuk menjaga kestabilan struktur serta menangani pelapukan dan penggaraman batu.
Pekerjaan ini dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan kajian teknis pada Agustus 2026 yang menemukan pergeseran susunan batu, rongga, dan rekahan pada bagian yasti dan harmika, serta kerusakan material pada stupa induk.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan, pemugaran yasti difokuskan pada pemulihan kestabilan struktur dengan tetap mempertahankan keaslian material. Penanganan tersebut dinilai penting karena yasti berada di bagian paling atas stupa induk sehingga kondisi strukturnya perlu dijaga untuk mendukung keutuhan bangunan.
Hal itu disampaikan Fadli dalam taklimat media bertajuk “Pemugaran Yasti Mahastupa Candi Borobudur” di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
“Pemugaran ini dilakukan berdasarkan temuan dan kajian teknis di lapangan, dengan mengutamakan penggunaan material asli. Setiap batu didokumentasikan, diberi nomor, dan dipasang kembali pada posisi semula. Hingga saat ini, belum ada batu yang diganti karena setiap tindakan harus didasarkan pada pemeriksaan yang cermat dan sesuai dengan prinsip pelestarian cagar budaya,” kata Menbud Fadli dalam keterangan yang diterima tvrinews melalui rilis Kemenbud, Rabu, 14 Oktober 2026.
Selain pemugaran yasti, Kementerian Kebudayaan melakukan konservasi Mahastupa untuk menangani pelapukan batu, rongga, rekahan, dan penggaraman yang berpotensi memengaruhi ketahanan material.
Fadli mengatakan, perubahan kondisi lingkungan, termasuk dampak perubahan iklim dan paparan cuaca dalam jangka panjang, menjadi tantangan yang perlu diperhitungkan dalam upaya pelestarian Candi Borobudur.

(Menteri Kebudayaan Fadli Zon. [Foto: TVRINews/HO-Kementerian Kebudayaan])
“Pelestarian Candi Borobudur membutuhkan pemantauan dan penanganan yang berkelanjutan. Kita perlu memastikan setiap tindakan dilakukan berdasarkan kajian ilmiah, dengan mempertimbangkan kondisi material dan riwayat penanganannya. Dengan demikian, keutuhan struktur dan nilai penting Borobudur sebagai warisan budaya dapat terus dijaga untuk generasi mendatang,” tambah Menbud.
Fadli juga menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan menerima aspirasi umat Buddha terkait rencana pemasangan chattra di puncak Mahastupa. Rencana tersebut masih dalam tahap kajian, termasuk melalui Heritage Impact Assessment(HIA) yang telah disampaikan kepada UNESCO.
Menurutnya, rencana pemasangan chattra memerlukan pembahasan lebih lanjut dengan memperhatikan ketentuan pelestarian Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia.
“Kami menghargai aspirasi umat Buddha dan memandang pentingnya dialog dalam membahas rencana tersebut. Setiap langkah perlu melalui kajian yang cermat dan memperhatikan ketentuan pelestarian Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia,” ucapnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menegaskan bahwa pelestarian Candi Borobudur harus memperhatikan nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan spiritualitas yang terkandung di dalamnya. Kesiapan menghadapi risiko perubahan iklim dan bencana juga menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian cagar budaya tersebut.
“Borobudur merupakan mahakarya peradaban Nusantara yang menjadi warisan Indonesia sekaligus warisan dunia. Karena itu, upaya pelestariannya harus didukung kajian ilmiah dan perencanaan yang matang, termasuk dalam menghadapi perubahan iklim serta berbagai risiko bencana. Pada saat yang sama, pelestarian juga perlu memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar Borobudur melalui pengembangan ekonomi budaya yang berkelanjutan,” ungkap Wamen Giring.
Ketua Tim Penyusun Heritage Impact Assessment (HIA), Ali Akbar, menjelaskan bahwa kebutuhan pemugaran diketahui melalui serangkaian pemeriksaan teknis terhadap kondisi yasti. Pemeriksaan dilakukan menggunakan sejumlah metode, antara lain Ground Penetrating Radar (GPR), pemindaian ultrasonik, dan hammer test untuk mengidentifikasi kondisi struktur dan material.
“Pemeriksaan dengan berbagai metode menunjukkan bahwa bagian yasti masih utuh, tetapi kondisinya rapuh dan memiliki sejumlah rongga serta rekahan yang perlu ditangani. Karena posisinya berada di puncak Mahastupa, temuan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemugaran yang terukur dan berdasarkan hasil pemeriksaan teknis. Penanganan ini juga menjadi kesempatan untuk memahami lebih jauh kondisi bagian atas Borobudur yang sudah lama tidak mendapatkan pemugaran menyeluruh,” ujar Ali Akbar.
Pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa dilaksanakan oleh tim gabungan Kementerian Kebudayaan melalui MCB dengan melibatkan tenaga ahli di bidang arkeologi, konservasi, teknik sipil dan struktur, serta metalurgi.
Pekerjaan dilakukan secara bertahap melalui pemeriksaan, dokumentasi, dan analisis material sebelum tindakan lanjutan ditentukan. Pendekatan tersebut bertujuan memastikan penanganan sesuai dengan kondisi aktual bangunan sekaligus mempertahankan keaslian material.
Candi Borobudur telah menjalani sejumlah pekerjaan pemugaran dan konservasi sejak dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Pemugaran besar pertama berlangsung pada 1907–1911 di bawah pimpinan arkeolog Theodoor van Erp. Pemugaran besar berikutnya dilaksanakan pada 1973–1983 melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dan UNESCO.
Pada 2010, penanganan intensif juga dilakukan setelah erupsi Gunung Merapi menyebabkan abu vulkanik menyelimuti kawasan candi dan mengganggu sistem drainase.
Pemugaran yasti kali ini menjadi penanganan pada bagian Mahastupa yang telah lama tidak menjalani pemugaran menyeluruh. Selain memperkuat struktur, pekerjaan tersebut menjadi bagian dari evaluasi terhadap material dan metode penanganan sebelumnya berdasarkan perkembangan ilmu konservasi.
Selama pekerjaan berlangsung, Candi Borobudur tetap dibuka untuk pengunjung dengan penyesuaian jalur demi menjaga keselamatan pengunjung dan pekerja. Pengunjung reguler dan pilgrim dapat mengakses candi hingga lantai 8 atau teras 1. Sementara itu, pengunjung dengan paket sunrise dan sunset tetap dapat mengakses hingga lantai 9 atau teras 2. Adapun pelataran utara ditutup sementara dan digunakan sebagai zona kerja.
Pekerjaan pemugaran ditargetkan selesai pada 24 Oktober 2026, dengan kemungkinan penyesuaian berdasarkan kondisi teknis di lapangan. Area yang ditutup akan dibuka kembali secara bertahap setelah pemeriksaan akhir memastikan keamanan bagi pengunjung.
Melalui pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa, Kementerian Kebudayaan berkomitmen menjaga keutuhan struktur, keaslian material, dan nilai penting Candi Borobudur melalui penanganan berbasis kajian ilmiah sesuai prinsip pelestarian cagar budaya. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pelestarian Borobudur sebagai Warisan Dunia sekaligus memastikan warisan peradaban tersebut tetap dapat dipelajari dan diapresiasi oleh generasi mendatang.










