TVRINews, Jakarta
Pemerintah menargetkan pembangunan jaringan gas bumi untuk rumah tangga (jargas) sebanyak 1,45 juta sambungan rumah (SR) sepanjang 2025 hingga 2029.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari, mengatakan saat ini sekitar 72 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor. Karena itu, pengembangan jargas dinilai menjadi solusi untuk menciptakan pasokan energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
"Tadi saya sudah sebutkan bahwa impor sekitar 72 persen setiap tahunnya dari kebutuhan dalam negeri. Dengan demikian, jargas merupakan langkah strategis pemerintah untuk membuat pasokan energi Indonesia lebih mandiri dan stabil," kata Qodari dalam konferensi persnya di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.
Program pembangunan jargas tersebut merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Qodari menjelaskan, jargas merupakan sistem distribusi gas bumi yang disalurkan langsung ke rumah tangga melalui jaringan pipa. Gas yang digunakan telah melalui proses pemurnian dengan kandungan utama metana sehingga dapat dialirkan secara terus-menerus kepada pelanggan.
"Jadi mirip seperti air PAM, cuman ini gas. Karakteristik tersebut membedakan jargas dari liquefied petroleum gas atau LPG atau gas minyak bumi cair," jelasnya.
Menurut Qodari, pengembangan jargas bertujuan untuk memperluas pemanfaatan gas bumi domestik, mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor, menekan beban subsidi, serta menyediakan sumber energi rumah tangga yang lebih praktis dan berkelanjutan.
Selain itu, masyarakat juga berpotensi menghemat pengeluaran karena pasokan gas yang tersedia langsung melalui pipa tanpa perlu membeli, mengangkut, dan mengganti tabung.









