TVRINews, Jakarta
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di enam provinsi prioritas di Indonesia hingga Selasa, 1 September 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan pemerintah bersama seluruh unsur terkait terus melakukan penanganan untuk melindungi masyarakat terdampak karhutla.
“Saat ini terjadi kebakaran hutan dan lahan pertama di enam provinsi prioritas,” ujar Berton dalam pembaruan penanganan karhutla, Selasa, 1 September 2026.
Penanganan dilakukan melalui operasi darat dan udara. Petugas memantau titik panas, arah angin, serta kondisi di lokasi kebakaran untuk menentukan langkah pemadaman.
Di Provinsi Riau, pemadaman dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Indragiri, Pelalawan, dan Bengkalis. Hingga 31 Agustus 2026, lahan yang berhasil dipadamkan mencapai lebih dari 126 hektare.
Sementara di Jambi, operasi darat dilakukan di 37 lokasi yang tersebar di delapan kabupaten. Pada 31 Agustus, petugas berhasil memadamkan karhutla seluas sekitar 13 hektare. Operasi udara juga dilakukan menggunakan dua helikopter dengan sekitar 264 ribu liter air dijatuhkan untuk membantu pemadaman.
Penanganan juga berlangsung di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. BNPB menyebut operasi masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain jarak pandang yang rendah, karakteristik lahan gambut yang sulit dipadamkan, serta keterbatasan sumber air.
Berton menegaskan operasi pemadaman dilakukan secara terpadu dengan melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, pemadam kebakaran, pemerintah daerah, dan masyarakat.
“Operasi udara dan darat terus dilaksanakan secara terpadu,”tandasnya.
BNPB juga mengimbau masyarakat di wilayah terdampak karhutla menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi kegiatan di luar rumah ketika kualitas udara memburuk, serta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.









