TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat kerja sama strategis dengan Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) dalam pemanfaatan data meteorologi, klimatologi, dan oseanografi untuk mendukung layanan informasi kemaritiman nasional. Penguatan sinergi tersebut dibahas dalam audiensi di Kantor Pushidrosal, Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, peningkatan layanan cuaca maritim menjadi kebutuhan penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Menurutnya, layanan informasi yang akurat dibutuhkan untuk menunjang keselamatan pelayaran, keamanan wilayah maritim, mitigasi bencana, hingga pertahanan nasional.
Faisal mengungkapkan, Presiden RI Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap penguatan layanan BMKG, terutama pada sektor meteorologi maritim dan sistem peringatan dini berbasis dampak atau impact-based forecasting.
Ia menjelaskan, BMKG saat ini telah memanfaatkan jaringan satelit meteorologi internasional melalui kerja sama dengan World Meteorological Organization (WMO), termasuk satelit Himawari milik Jepang serta satelit dari Amerika Serikat dan Korea Selatan. Meski demikian, BMKG masih membutuhkan penguatan infrastruktur radar cuaca di berbagai wilayah Indonesia.
Selain itu, BMKG juga terus mengembangkan sistem prakiraan berbasis dampak yang tidak hanya menyampaikan informasi cuaca, tetapi juga potensi risiko yang dapat ditimbulkan kepada masyarakat.
“Ke depan, informasi cuaca tidak hanya menyebutkan hujan lebat, tetapi juga dampak yang mungkin terjadi seperti banjir pesisir atau longsor. Karena itu, data dari Pushidrosal sangat dibutuhkan untuk meningkatkan akurasi sistem,” kata Faisal dalam keterangan tertulis, Kamis, 7 Mei 2026.
Menurutnya, integrasi data meteorologi, hidrologi, dan oseanografi menjadi faktor penting dalam memperkuat sistem peringatan dini, khususnya di kawasan pesisir dan jalur pelayaran nasional.
Dalam kesempatan itu, Faisal juga menyoroti peran Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan BMKG untuk mendukung keselamatan transportasi dan pengelolaan sumber daya air. BMKG disebut telah melakukan operasi hujan buatan di sejumlah jalur penyeberangan strategis seperti Ketapang–Gilimanuk dan Merak–Bakauheni guna meminimalkan risiko akibat cuaca ekstrem.
Menjelang musim kemarau, BMKG juga mendapat penugasan untuk membantu pengisian debit bendungan di sejumlah daerah melalui teknologi modifikasi cuaca.
Pada sektor layanan kemaritiman, BMKG terus mengembangkan aplikasi Indonesia Weather Information for Shipping (INA-WIS) yang menyediakan informasi cuaca pelayaran, arus laut, tinggi gelombang, hingga rekomendasi keselamatan kapal.
Faisal berharap integrasi data antara INA-WIS dan sistem alur pelayaran milik Pushidrosal dapat menghasilkan layanan informasi maritim yang lebih lengkap dan mudah dimanfaatkan masyarakat maupun pelaku transportasi laut.
BMKG juga mengajak Pushidrosal terlibat dalam berbagai program edukasi kebencanaan dan kemaritiman, seperti Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), Sekolah Lapang Iklim (SLI), serta Sekolah Lapang Gempa dan Tsunami.
Sementara itu, Komandan Pushidrosal Laksamana Madya TNI Budi Purwanto menyambut baik penguatan kolaborasi tersebut. Ia mengatakan, data meteorologi BMKG selama ini sangat membantu dalam pemodelan ancaman bencana pesisir dan kajian oseanografi.
Menurut Budi, sinergi kedua lembaga sebelumnya juga telah dilakukan dalam pemetaan longsoran bawah laut yang menjadi salah satu pemicu tsunami Palu.
Audiensi tersebut turut dihadiri Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca Tri Handoko Seto, Plt. Direktur Meteorologi Maritim Agie Wandala Putra, serta jajaran BMKG dan Pushidrosal lainnya.
Melalui kerja sama ini, BMKG dan Pushidrosal berharap layanan informasi kemaritiman nasional dapat semakin terintegrasi, akurat, dan adaptif dalam mendukung keselamatan pelayaran, mitigasi bencana, serta ketahanan maritim Indonesia.










