TVRINews, Jakarta
Industri galangan kapal nasional menghadapi tekanan akibat kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut semakin berat setelah harga energi dan berbagai bahan baku utama mengalami kenaikan signifikan.
Ketua Umum Institusi Galangan Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Anita Puji Utami, mengatakan tekanan terhadap industri galangan kapal semakin terasa di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah.
Menurut Anita, eskalasi konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat serta dampaknya terhadap jalur perdagangan internasional, terutama di Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga berbagai komoditas dan material yang dibutuhkan industri galangan kapal.
"Dampak tersebut dirasakan langsung oleh pelaku usaha yang masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri," kata Anita, dalam keterangan yang diterima redaksi, Senin, 8 Juni 2026.
Data Iperindo menunjukkan harga Solar B40 naik hingga 89,19 persen. Sementara itu, LPG 12 kilogram meningkat 16,16 persen dan LPG 50 kilogram naik 26,51 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Kenaikan juga terjadi pada sejumlah material utama. Harga plat baja sebagai bahan pokok pembangunan kapal meningkat antara 7 hingga 12,60 persen. Adapun harga cat kapal naik sekitar 21 persen sehingga menambah beban operasional galangan.
"Khusus untuk pemakaian bahan bakar industri di galangan kapal, harapannya bisa mendapatkan BBM subsidi dari Pemerintah," lanjutnya.
Selain energi dan baja, komponen pendukung lain juga mengalami kenaikan harga. Zinc anode dan aluminium anode masing-masing naik 12,87 persen dan 13,61 persen. Harga oli untuk kebutuhan mesin dan peralatan galangan meningkat antara 15 hingga 40 persen, sedangkan bahan plastik naik sekitar 30 hingga 50 persen.
Anita menjelaskan industri galangan kapal nasional masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap komponen impor. Sekitar 45 persen kebutuhan material dan peralatan masih berasal dari luar negeri sehingga industri sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada biaya produksi. Banyak kontrak pekerjaan ditandatangani saat nilai tukar dolar masih berada pada level lebih rendah. Namun ketika proses pengadaan dan pelunasan material dilakukan, perusahaan harus membayar dengan kurs yang jauh lebih tinggi sehingga terjadi pembengkakan biaya.
Direktur Utama PT Adiluhung Saranasegara Indonesia itu menambahkan, untuk menjaga keberlangsungan usaha dan kualitas layanan, sejumlah galangan kapal terpaksa melakukan penyesuaian tarif reparasi kapal.
Kenaikan tarif reparasi diperkirakan mencapai sekitar 20 persen guna mengimbangi lonjakan biaya produksi yang terus terjadi.
Sementara untuk proyek pembangunan kapal baru yang masih berjalan, pelaku industri saat ini tengah membahas dan bernegosiasi dengan pemilik kapal terkait kemungkinan penerapan eskalasi biaya.
Iperindo berharap pemerintah memberikan perhatian dan dukungan terhadap kondisi yang dihadapi industri galangan kapal nasional agar sektor strategis tersebut tetap mampu bertahan, menjaga daya saing, dan mendukung pertumbuhan industri maritim Indonesia.










