TVRINews, Medan
Muhammad Risky Pratama (12) tak lagi menghabiskan hari-harinya mengayuh sepeda menjajakan ikan demi membantu ekonomi keluarga. Berkat program Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, bocah asal Bagan Deli itu kini bisa fokus belajar dan mulai menata mimpi untuk meraih cita-citanya menjadi seorang tentara.
Setahun lalu, Muhammad Risky Pratama harus berkeliling menjual ikan segar hasil tangkapan laut di kawasan Bagan Deli, Kota Medan. Penghasilan antara Rp30 ribu hingga Rp90 ribu per hari digunakannya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Kini, kehidupan bocah berusia 12 tahun itu berubah. Melalui Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, Risky memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan sekaligus membangun masa depan yang selama ini diimpikannya.
Risky berasal dari keluarga kurang mampu. Sejak kelas 4 SD, ia diasuh oleh kakek dan neneknya karena sang ibu merantau bekerja ke luar daerah, sementara ayahnya telah berkeluarga lagi. Kondisi ekonomi keluarga membuat Risky memilih membantu mencari nafkah dengan berjualan ikan sejak duduk di bangku kelas 6 SD.
"Hasil jualan dibagi nenek, habis itu nenek beli beras dan pempers adik," ujar Risky, dikutip tvrinews.com dari laman kementerian sosial, Sabtu, 27 Juni 2026.
Meski terbiasa bekerja membantu keluarga, Risky tidak pernah meninggalkan keinginannya untuk tetap bersekolah. Kesempatan itu akhirnya datang melalui program Sekolah Rakyat yang memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin.
Di sekolah tersebut, Risky tidak hanya mendapatkan pendidikan formal, tetapi juga pembinaan karakter, bimbingan belajar, hingga fasilitas asrama yang mendukung proses belajarnya.
"Dulu saya enggak pandai baca, jadi saya diajarin guru, wali asuh, wali asrama. Nggak pandai niat salat, niat wudhu, sekarang sudah bisa," ucap Risky.
Perubahan besar juga dirasakan keluarga. Nenek Risky, Masitah, mengaku terharu melihat perkembangan cucunya sejak masuk Sekolah Rakyat.
Menurutnya, Risky kini lebih mandiri, disiplin, percaya diri, dan semakin rajin beribadah. Kebiasaan bermain di luar rumah kini berganti dengan kegiatan belajar dan beribadah di musala maupun masjid.
"Dulu saya menangis karena merasa tidak sanggup menyekolahkan dia. Kalau sekarang saya menangis, tapi menangis bahagia," ungkap Masitah.
Sang kakek, Salamuddin, mengatakan Risky memang berjualan ikan atas kemauan sendiri untuk membantu ekonomi keluarga. Namun, ia selalu berharap cucunya tetap mengutamakan pendidikan agar memiliki masa depan yang lebih baik.
"Supaya dia terdidik, menjadi orang," kata Salamuddin.
Di balik semangatnya mengejar cita-cita menjadi tentara, Risky masih menyimpan kerinduan kepada sang ibu yang telah lama merantau. Ia berharap suatu saat bisa kembali bertemu, sembari terus belajar dan menggapai impiannya di Sekolah Rakyat.
"Mamak biar bagus-bagus kerjanya, jangan terpikir kami dulu. Terima kasih mamak sudah menjaga kami dari kecil," tutur Risky.










