TVRINews, Surabaya
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Badan Eksekutif Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya bersama Cendekia Madani menggelar seminar nasional bertajuk “Menata Fondasi Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua” dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 4 FTIK UIN Sunan Ampel Surabaya itu dihadiri lebih dari 300 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, praktisi pendidikan, serta masyarakat umum.

Seminar menghadirkan narasumber Budy Sugandi, Auliya Ridwan, dan Iksan K. Sahri, dengan moderator Anis Sukmawati. Diskusi berlangsung dinamis dengan fokus pada arah transformasi pendidikan nasional.
Dalam forum tersebut, para pembicara menyoroti berbagai tantangan pendidikan saat ini sekaligus memberikan apresiasi terhadap kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di bawah kepemimpinan Abdul Mu’ti. Sejumlah program seperti revitalisasi sekolah, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, pendekatan deep learning, serta Program Beasiswa ADEM menjadi perhatian utama.
Revitalisasi sekolah dinilai penting dalam meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan. Sementara itu, gerakan pembiasaan karakter diapresiasi sebagai upaya membentuk peserta didik yang berintegritas sejak dini.
Budy Sugandi menyampaikan pandangannya terkait program revitalisasi sekolah.
“Program revitalisasi sekolah yang dijalankan Kemdikdasmen menunjukkan keseriusan negara dalam menghadirkan lingkungan belajar yang layak dan bermutu. Ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi fondasi penting bagi lahirnya ekosistem pendidikan yang berkeadilan dan berdaya saing,” papar Budy yang juga merupakan co-chairman G20 untuk pemuda (Y20), Selasa, 5 Mei 2026.
Auliya Ridwan menekankan pentingnya pembentukan karakter melalui kebiasaan positif.
“Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat adalah langkah visioner. Pendidikan tidak cukup hanya kognitif, tetapi harus membentuk karakter. Program ini menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi yang tangguh dan berintegritas,” jelas Ridwan yang juga merupakan pakar Pendidikan alumnus dari Amerika dan Australia.
Iksan K. Sahri menyoroti pendekatan pembelajaran mendalam serta perluasan akses pendidikan.
“Implementasi deep learning yang didorong Kemdikdasmen adalah arah yang tepat. Pembelajaran harus bermakna, kontekstual, dan mendorong daya pikir kritis siswa. Ditambah dengan program seperti Beasiswa ADEM, kita melihat adanya keseriusan dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan merata,” ujar Iksan yang juga merupakan peneliti dan penulis buku.
Para peserta seminar menilai kebijakan tersebut sebagai langkah konkret dalam memperkuat fondasi pendidikan nasional. Diskusi juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk peran perguruan tinggi dalam mendukung inovasi pendidikan.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk mendorong pendidikan yang berkualitas, merata, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.










