TVRINews, Lampung
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah meminta agar Institut Teknologi Sumatera (ITERA) memperkuat riset dan inovasi agar semakin mampu menjawab kebutuhan pembangunan di Sumatera. Hal tersebut, diungkapkan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto.
Pada kesempatan tersebut, Brian menuturkan sejak didirikan melalui kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan pemerintah daerah, khususnya Lampung, ITERA memiliki mandat untuk memperluas akses pendidikan teknologi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“ITERA didirikan untuk menyiapkan sumber daya manusia, khususnya insinyur bagi percepatan pembangunan Sumatra,” ujar Brian saat memberikan orasi ilmiah dalam Sidang Terbuka Dies Natalis ke-12 ITERA Tahun 2026, Selasa, 6 Oktober 2026.
Tak hanya itu, ia menyebut jika selama 12 tahun berdiri, ITERA telah memiliki 41 program studi sarjana dan satu program magister dengan hampir 15 ribu alumni. Meningkatnya minat calon mahasiswa dinilai menjadi indikator semakin besarnya kepercayaan masyarakat terhadap ITERA.
Namun, Brian menekankan peningkatan kepercayaan tersebut harus diikuti dengan penguatan kualitas pendidikan, riset, serta kerja sama dengan berbagai pihak.
Ia juga meminta empat nilai yang menjadi tagline Dies Natalis, yakni Brave, Independent, Sustainable, dan Adaptive, diterapkan sebagai budaya dalam pengembangan kampus, bukan sekadar slogan.
“Jadikanlah itu cara berpikir setiap kali ITERA menghadapi tantangan baru, baik dalam riset, pendanaan maupun dalam membangun reputasi. Pertanyaan pertamanya bukan lagi apakah kita mampu, tetapi bagaimana caranya agar ITERA bisa menjawab tantangan tersebut,” katanya.
Brian menilai nilai Brave dapat diwujudkan melalui keberanian mengembangkan bidang keilmuan yang dibutuhkan bangsa. Sementara Independent diwujudkan dengan menghasilkan karya yang memiliki nilai dan dapat dikembangkan menjadi produk yang bermanfaat.
Pada aspek keberlanjutan, ITERA didorong mengembangkan inovasi yang menjawab persoalan di wilayah Sumatera. Salah satunya melalui program SUSTAIN (Strengthening Tsunami-Resilient Infrastructure) yang mendapat dukungan UNESCO dan diarahkan untuk memperkuat ketangguhan infrastruktur terhadap bencana tsunami.
Adapun nilai Adaptive diwujudkan melalui penyesuaian pendidikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja. Salah satunya melalui pembangunan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) Center untuk mendukung rencana pembukaan pendidikan profesi apoteker.
Brian juga menyoroti peran ITERA dalam mendukung agenda hilirisasi sumber daya alam. Menurutnya, Sumatera memiliki kekayaan sumber daya alam yang membutuhkan dukungan sumber daya manusia dengan berbagai kompetensi.
Mulai dari insinyur pertambangan, ahli metalurgi dan pengolahan, insinyur manufaktur hingga ahli lingkungan.
“Diktisaintek Berdampak: riset yang menghasilkan solusi, kampus yang menghubungkan dengan pemerintah daerah, industri dan masyarakat, serta lulusan yang siap bekerja untuk menciptakan lapangan kerja,” ujar Brian.
Ia pun mendorong Pemerintah Provinsi Lampung menjadikan ITERA sebagai mitra dalam menyusun kebijakan pembangunan. Berbagai persoalan daerah dapat dijadikan bahan penelitian, tesis, maupun skripsi mahasiswa dengan melibatkan dosen.
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan agenda hilirisasi komoditas unggulan Lampung, seperti ubi kayu dan kopi robusta, termasuk pengembangan ekosistem bioetanol.
Rektor ITERA Elfahmi mengatakan pihaknya terus mengarahkan pengembangan riset pada potensi strategis Lampung dan Sumatera. Beberapa di antaranya komoditas unggulan, logam tanah jarang, energi terbarukan, dan pengelolaan sampah.
“Pengembangan riset ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan hilirisasi hasil penelitian agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Elfahmi.
Dalam rangkaian Dies Natalis ke-12, ITERA meluncurkan program SUSTAIN dan meresmikan sejumlah fasilitas pendidikan, yakni Gedung Kuliah Umum 2 (GKU 2), Gedung OSCE, apotek, dan klinik ITERA.
ITERA juga menyiapkan pembangunan GKU 3 melalui pendanaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), serta pembangunan gedung auditorium oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang dilengkapi jembatan penyeberangan orang (JPO).
Dalam kesempatan tersebut, Brian Yuliarto menerima penghargaan ITERA Adhikarsa Utama Tahun 2026 atas kontribusinya dalam pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.










