TVRINews, Jakarta
Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mengatakan Konferensi Imam Dunia (IGIC) 2026 menjadi ruang untuk merumuskan peran masjid sebagai titik temu berbagai pihak dan kelompok dalam membahas persoalan yang dihadapi masyarakat dunia.
“Pertama, kita akan menjadikan masjid, rumah ibadah ini, sebagai meeting point untuk berbagai macam pihak dan kelompok. Bagaimana menjadikan masjid ini sebagai rumah aman untuk mendiskusikan dan membicarakan persoalan-persoalan kemanusiaan,” kata Nasaruddin, Sabtu, 26 September 2026.
Menurut Nasaruddin, persoalan yang dibahas dalam forum tersebut tidak terbatas pada konflik kemanusiaan. Kerusakan lingkungan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga menjadi isu yang perlu mendapat perhatian.
“Apakah itu persoalan konflik kemanusiaan, apakah itu masalah kerusakan lingkungan alam, apakah itu nanti memberikan arah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peranan imam ini sangat penting,” ujarnya.
Pertemuan tersebut dihadiri delegasi dari 39 negara dengan total peserta lebih dari 40 orang. Nasaruddin menyebut pertemuan ini sebagai pertemuan pertama di dunia yang mempertemukan imam-imam besar dari berbagai negara.
Ia menjelaskan, para peserta berasal dari berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah, Eropa, Amerika, Amerika Latin, dan Asia. Para imam yang hadir disebut merupakan representasi imam di masing-masing wilayahnya.
Dalam pertemuan tersebut, para peserta juga membahas peran imam dalam merespons kondisi global yang diwarnai konflik, perang, dan bencana alam. Menurut Nasaruddin, forum ini diarahkan untuk merumuskan satu narasi keagamaan bersama yang tidak hanya ditujukan kepada umat Islam, tetapi juga umat manusia secara keseluruhan.
“Di tengah semua kekacauan ini, kita ingin para imam ini yang dipelopori oleh imam kita, Imam Masjid Istiqlal dan Kementerian Agama Republik Indonesia, menyusun satu narasi bersama yang tidak hanya ditujukan untuk umat Islam, tetapi ditujukan untuk umat manusia seluruhnya,” ujar Nasaruddin.
Gagasan tersebut mendapat respons dari Grand Imam dari Italia Nader Akkad yang hadir dalam pertemuan. Ia menyampaikan bahwa para imam dari berbagai kawasan dapat membahas hal-hal yang dapat dilakukan bersama dalam menghadapi persoalan dunia.
Menurut Nader, persoalan yang dihadapi masyarakat tidak hanya berkaitan dengan politik, tetapi juga mencakup lingkungan dan berbagai persoalan lain yang membutuhkan perhatian bersama.
Sementara itu, Imam Besar Masjid Al-Aqsa Syekh Muhammad Hussein menyampaikan pentingnya peran para imam dalam menyebarkan perdamaian global serta membangun keharmonisan antara manusia dan alam.
Menag menjelaskan, pembahasan dalam pertemuan tersebut diarahkan lebih luas dari persoalan umat Islam. Para imam diharapkan dapat berkontribusi dalam merespons persoalan kemanusiaan sekaligus membangun hubungan yang harmonis antara manusia dan alam semesta.
“Dan juga bukan hanya menyuarakan perdamaian antara sesama umat manusia tapi juga hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam semesta, dan alam semesta, manusia, dan Tuhan Yang Maha Kuasa,” tuturnya.
Ia menambahkan, pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan keputusan, rekomendasi, dan tindakan yang bermanfaat bagi umat manusia secara keseluruhan. Selain itu, pertemuan para imam dari berbagai negara ini diharapkan dapat dilakukan secara reguler.
Dengan demikian, gagasan yang dibahas tidak berhenti pada pertemuan para tokoh agama, tetapi diarahkan pada upaya melihat peran imam dan masjid dalam merespons persoalan kemanusiaan, membangun perdamaian, serta memperkuat keharmonisan kehidupan manusia dengan lingkungan.










