TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), memberikan pembaruan mengenai rencana pembangunan Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall. AHY menyatakan bahwa konsep mega proyek tersebut saat ini terus dirumuskan dan dimatangkan oleh pemerintah.
Menurut AHY, proyek berskala besar ini membutuhkan persiapan yang sangat komprehensif karena melibatkan banyak wilayah di Indonesia. Tercatat ada lima provinsi, 20 kabupaten, dan lima kota, khususnya yang berada di sepanjang wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa, yang masuk dalam pemetaan proyek ini.
Langkah ini mendesak dilakukan mengingat ada sekitar 50 juta masyarakat yang tinggal di wilayah Pantura Jawa dan saat ini menghadapi ancaman ekologis yang nyata dari alam.
Menko AHY menjelaskan bahwa Giant Sea Wall tidak hanya berfungsi untuk mengantisipasi ancaman ekologis berupa naiknya permukaan laut yang mengakibatkan banjir rob di sejumlah kawasan, seperti di Teluk Jakarta serta kawasan Semarang, Demak, dan Kendal. Keberadaan tanggul ini juga menjadi intervensi terhadap laju penurunan permukaan tanah yang semakin mengkhawatirkan.
"Penurunan permukaan tanah juga bisa dikatakan semakin buruk dari tahun ke tahun, 15 hingga 20 cm turunnya setiap tahun. Ini perlu intervensi, perlu solusi infrastruktur, diantaranya adalah dengan pembangun tanggul, tanggul pantai atau tanggul laut kalau memang sudah parah," ujar AHY.
Meski mengandalkan infrastruktur fisik yang masif, pemerintah juga akan mengintegrasikan pembangunan tersebut dengan pendekatan yang lebih alamiah atau nature based solution. Salah satunya adalah dengan mengoptimalkan vegetasi mangrove sebagai pemecah ombak alami demi memastikan keselamatan masyarakat di pesisir.
Lebih lanjut, AHY memaparkan bahwa kehadiran Giant Sea Wall memiliki fungsi multidimensi yang sangat vital bagi perekonomian nasional. Selain melindungi pemukiman warga dari risiko tenggelam, infrastruktur ini dirancang untuk menjaga sejumlah aset penting negara yang mulai terancam akibat intrusi air laut.
Menko AHY turut menegaskan bahwa terdapat beberapa kawasan yang akan dilindungi melalui proyek ini meliputi Kawasan industri strategis nasional, Kawasan ekonomi khusus (KEK) serta Sentra-sentra pangan di sepanjang pesisir Pantura. Mengingat skala proyek yang sangat besar, AHY mengakui bahwa kebutuhan anggaran untuk Giant Sea Wall tidak sedikit.
"Disinilah negara akan mengundang banyak pihak swasta dan bisnis community selainnya dalam dan luar negeri karena pada akhirnya ini juga merupakan investasi untuk ekonomi kita di masa depan. Kita kejar terus, mudah-mudahan tahun depan bisa lebih matang lagi konsepnya," pungkas AHY.










