TVRINews - Jakarta
Forum Global Soroti Integrasi Teknologi 5G dan DVB-T2 di Asia-Pasifik
Lanskap industri penyiaran global tengah mengalami pergeseran fundamental menuju era hybrid broadcasting. Strategis ini ditempuh melalui integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), layanan Over-The-Top (OTT), digitalisasi DVB-T2, serta implementasi teknologi 5G Broadcast demi menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan informasi publik yang kian dinamis.
Dalam serangkaian forum penyiaran internasional termasuk BroadcastAsia, Asia-Pacific Broadcasting Union (ABU), dan Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) para perumus kebijakan dan pakar industri sepakat bahwa kawasan Asia-Pasifik (APAC), termasuk Indonesia, menjadi wilayah krusial bagi adopsi teknologi mutakhir ini.
5G Broadcast dinilai berpotensi kuat menjadi motor penggerak distribusi konten masa depan. Teknologi ini dirancang untuk mengoptimalkan layanan visual pada perangkat bergerak (mobile), memperkuat sistem peringatan dini dan komunikasi darurat saat bencana, serta memperkecil kesenjangan akses informasi di daerah-daerah pelosok.
Di tengah pesatnya penetrasi media sosial, lembaga penyiaran publik kini menghadapi tantangan besar untuk menjaga akurasi di tengah pusaran algoritma digital.
Dalam sesi diskusi panel BroadcastAsia bertajuk "Broadcast Leadership in Today's Multi-Platform Environment", Direktur Teknik LPP TVRI Bernadus Satriyo Dharmanto menegaskan bahwa di negara dengan basis pengguna media sosial yang sangat masif, menjaga kepercayaan publik (public trust) adalah prioritas tertinggi yang tidak boleh dikompromikan demi mengejar viralitas semata.
“Lembaga penyiaran publik memikul tanggung jawab besar sebagai pilar konfirmasi informasi yang valid bagi masyarakat. Guna mendukung misi tersebut, optimalisasi infrastruktur digital terus digenjot melalui pengembangan platform OTT dan pemanfaatan perangkat analitik berbasis kecerdasan buatan (AI)” Jelasnya
Teknologi AI diimplementasikan secara strategis untuk menganalisis konten serta memastikan bahwa distribusi informasi di seluruh stasiun penyiaran daerah tetap mempertahankan standar jurnalisme yang sehat dan edukatif bagi public.
Langkah memperkuat jangkar informasi ini menjadi kian krusial mengingat karakteristik geografis dan sosiologis penonton yang sangat beragam. Distribusi konten penyiaran tidak hanya berfokus pada kawasan urban, melainkan juga harus menyentuh masyarakat di wilayah pedesaan (rural areas) serta kawasan perbatasan negara.
Karakteristik masyarakat di wilayah pelosok yang cenderung langsung memercayai informasi pertama yang mereka terima meski belum tentu akurat menuntut kehadiran media penyiaran publik sebagai referensi utama yang kredibel guna menangkal hoaks dan mencegah disinformasi .
Meskipun demikian, transformasi menuju era otomatisasi ini tidak luput dari tantangan regulasi dan spektrum. Sebagai langkah solutif, kolaborasi multiplatform yang memadukan keandalan siaran terestrial digital (DVB-T2), jangkauan luas satelit, fleksibilitas OTT, dan efisiensi 5G Broadcast kini diposisikan sebagai pilar utama.
Kombinasi komprehensif ini diyakini mampu membangun ekosistem media yang tidak hanya modern dan adaptif, tetapi juga tangguh (resilient) serta inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, sekaligus memastikan negara tetap hadir dalam menjaga kedaulatan informasi hingga ke wilayah terluar.









