TVRINews, Jakarta
Aspirasi Jakarta bersama ILUNI FH Universitas Atma Jaya, Forum Peduli Literasi Masyarakat, dan Tinta Narrativa menggelar forum diskusi publik bertajuk “Blak-Blakan Bareng Tenaga Ahli: Ngomongin Jakarta”. Kegiatan yang didukung Perumda Pasar Jaya itu membahas masa depan Jakarta menuju kota global di tengah beragam tantangan urban yang semakin kompleks.
Diskusi menghadirkan sejumlah Tenaga Ahli Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, di antaranya Reinhard Sirait dan Aris Setiawan bidang komunitas sosial, Hikari Erasa bidang pemerintahan, serta Fariz Gamal bidang pembangunan tata kota.
Dalam pembukaan acara, Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Profesor Firdaus Ali, menegaskan momentum menuju lima abad Jakarta harus diisi dengan program progresif dan berdampak nyata bagi masyarakat.
“kita menjadi bagian dari sejarah tidak terlupakan dalam sejarah 5 abad kota Jakarta. Jadilah kita menjadi saksi yang proaktif dan kreatif untuk Jakarta dan Indonesia,” ujar Profesor Firdaus Ali, dalam keterangan yang diterima redaksi, Sabtu, 23 Mei 2026.
Firdaus Ali juga menyoroti tantangan besar Jakarta, termasuk persoalan pengelolaan sampah menjelang penutupan TPA Nasional Bantar Gebang pada Agustus 2026. Menurutnya, Jakarta membutuhkan kolaborasi dan solusi konkret dari masyarakat.
“Jakarta memerlukan mereka yang hadir membawa solusi. Jakarta membutuhkan kolaborasi. Saya yakin teman-teman yang ada di ruangan ini maupun luar sana, kita punya platform yang sama dan cita-cita yang sama,” tutur Firdaus Ali.
Ia menambahkan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menginginkan masyarakat hadir membawa solusi nyata dalam penyelesaian persoalan kota.
”Bapak Gubernur Pramono itu menginginkan warga yang bertemu beliau itu bukan datang membawa proposal. Tapi beliau ingin agar warga atau siapa pun yang bertemu beliau itu datang membawa program konkrit bagi penyelesaian masalah yang ada,” tandas Profesor Firdaus Ali.
Founder Aspirasi Jakarta, Budhi Haryadi, menjelaskan pentingnya ruang kebudayaan dan penguatan harapan masyarakat di kawasan kampung kota.
“Aspirasi Jakarta dibangun dari orang-orang muda lintas komunitas yang selama ini konsisten turun langsung menjangkau masyarakat akar rumput. Khususnya warga miskin kota yang sering kali luput dari sorotan pembangunan,” terang Budhi.
Budhi juga menyinggung kegiatan nonton bareng layar tancap sebagai ruang hiburan sekaligus literasi publik.
“Melalui gerakan nonton layar tancap kami menonton film-film yang edukatif, seperti laskar pelangi, rumah tanpa jendela, dan beberapa film anak edukatif dari luar negeri. Bulan lalu kami melakukan di Manggarai. Nobar layar tancap adalah tempat hiburan yang mendidik bagi masyarakat.”
Ketua ILUNI FH Universitas Atma Jaya, Arthur Sanger, menilai Jakarta bukan sekadar pusat ekonomi nasional, tetapi juga ruang hidup yang menyimpan harapan dan kreativitas masyarakat.
“Pada prinsipnya kami dari Iluni FH UAJ siap hadir dan berkolaborasi untuk memperkuat jejaring strategis, meningkatkan sinergi, dan berkontribusi untuk kemajuan Jakarta. Kami mendukung program-program penting dari pak Gubernur dan Wakil Gubernur untuk pembangunan Jakarta,” jelas Arthur Sanger.
Dalam sesi diskusi, Reinhard Sirait menekankan pentingnya komunikasi dua arah dan partisipasi warga dalam pembangunan kota modern.
“Di era digital warga memiliki akses informasi, ruang partisipasi, sekaligus kemampuan mengawasi jalannya pemerintahan secara langsung. Jakarta kota global harus dibangun lewat Citizen participation, keterlibatan komunitas, dan budaya komunikasi dua arah yang sehat,” tutur Reinhard.
Sementara Hikari Erasa mengajak masyarakat membangun energi kolektif menyambut 500 tahun Jakarta.
“Jakarta 500 tahun adalah tentang keberanian membayangkan kota yang lebih adil, lebih sehat, lebih berbudaya, dan lebih membahagiakan bagi semua,” kata Hikari Erasa.
Fariz Gamal menyoroti persoalan lingkungan, terutama volume sampah Jakarta yang mencapai sekitar 8.000 ton per hari.
“Persoalan ini bukan hanya sebagai tantangan teknis pemerintah, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh warga kota,” ujarnya.
Adapun Aris Setiawan memaparkan hasil survei terkait dukungan masyarakat terhadap transformasi Jakarta menjadi kota global.
“Data dari Litbang Kompas, 87,9% dari 400 responden warga Jakarta menyatakan mendukung arah pembangunan Jakarta menuju kota global. Artinya ini adalah sinyal penting bahwa Jakarta memiliki modal sosial menuju kota global,” ujar Aris.
Diskusi berlangsung hangat dan partisipatif. Peserta dari berbagai komunitas menyampaikan pandangan mengenai isu agraria, persampahan, literasi, kebudayaan, hingga kebutuhan ruang kreatif dan ruang dialog publik di Jakarta.
Acara juga dihadiri Kepala Badan BPDSM Dyan Airlangga, Kepala Badan Kesbangpol Muhammad Matsani, akademisi, mahasiswa, komunitas literasi, relawan, media, dan berbagai elemen masyarakat.










