TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, mengajak mahasiswa untuk menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dengan mengurangi perilaku konsumtif. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan timbulan sampah dan emisi yang berdampak pada perubahan iklim.
Ajakan itu disampaikan Wamen Diaz secara daring saat membuka The 6th Summer School on Resilient Futures: Multidisciplinary Strategies for Climate Adaptation and Disaster Risk Reduction bagi mahasiswa pascasarjana Universitas Airlangga. Kegiatan tersebut diikuti peserta dari berbagai negara, antara lain Afghanistan, Mesir, India, Italia, Malaysia, Selandia Baru, Pakistan, Filipina, Taiwan, Uganda, dan sejumlah negara lainnya.
Dalam paparannya, Diaz mengajak mahasiswa memulai perubahan dari kebiasaan sehari-hari, seperti memanfaatkan transportasi umum, menggunakan produk lokal, serta menghindari pola konsumsi yang berlebihan.
"Apa yang bisa dilakukan sebagai pelajar? Kalian bisa memanfaatkan transportasi umum semaksimal mungkin, pastikan untuk menggunakan barang-barang lokal untuk mengurangi emisi dari logistik, dan yang terpenting, usahakan untuk tidak konsumtif, karena semakin banyak kalian mengonsumsi, semakin banyak limbah yang dihasilkan,"ujar Wamen Diaz dalam keterangan tertulis, dikutip, Selasa, 21 Juli 2026.
Menurut Diaz, meningkatnya perilaku konsumtif akan mendorong produksi barang secara berlebihan yang pada akhirnya menghasilkan lebih banyak limbah dan emisi. Ia mencontohkan, pemborosan makanan, produksi pakaian yang berlebihan, hingga penggunaan plastik sekali pakai menjadi penyumbang utama persoalan lingkungan.
"Produksi yang berlebihan menimbulkan dampak buruk, tidak hanya berupa emisi, tetapi juga limbah. Makan secara berlebihan menghasilkan food waste, produksi pakaian berlebihan menghasilkan limbah pakaian, dan penggunaan plastik sekali pakai yang berlebihan menghasilkan limbah plastik, sehingga semakin banyak pula masalah yang timbul," tegasnya.
Diaz juga menyoroti persoalan pengelolaan sampah di Indonesia yang masih menjadi tantangan besar. Menurutnya, sebagian besar sampah belum dikelola secara optimal sehingga menumpuk di tempat pemrosesan akhir (TPA) dan berpotensi menimbulkan risiko bagi lingkungan maupun masyarakat.
"Dari seluruh sampah yang kita hasilkan setiap tahun sebagai masyarakat Indonesia, hanya 25% yang berhasil dikelola. Banyak yang berakhir di TPA, namun kebanyakan sampah tersebut tidak dipilah atau dikelola dengan baik. Penumpukan sampah ini dapat memicu risiko kebakaran, terutama dengan adanya fenomena El Niño yang dampaknya diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan Agustus hingga September,"lanjutnya.
Selain membahas persoalan sampah, Diaz juga mengajak para peserta merefleksikan pentingnya menjaga sungai sebagai sumber kehidupan dan pusat berkembangnya peradaban manusia. Ia menilai pencemaran sungai yang masih terjadi menjadi bukti bahwa pengelolaan limbah perlu terus diperbaiki.
"Di mana peradaban manusia berawal? Mengapa peradaban manusia berkembang di sepanjang lembah sungai? Karena kita membutuhkan air. Namun ironisnya, mengapa kita mencemari sungai kita hari ini? Jadi, inilah dampaknya, dampak dari pengelolaan limbah yang tidak baik,”pungkasnya.










