TVRINews, Kupang
Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM), menggelar Forest Youthverse Summit di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Oelsonbai dan Mapoli, Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 20–21 Juli 2026.
Kegiatan ini menjadi wadah pembinaan generasi muda untuk memperkuat peran mereka dalam upaya pelestarian hutan melalui aksi nyata.
Mengusung tema "Smart Eco-Generation: Aksi Muda Lestari untuk Optimalisasi Benteng Hijau Mapoli dan Konservasi Biodiversitas KHDTK Oelsonbai", kegiatan tersebut diikuti 30 peserta terbaik yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan komunitas di NTT. Mereka merupakan peserta terpilih dari 65 orang yang sebelumnya mengikuti Mentoring Class pada 7–9 Juli 2026.
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Luckmi Purwandari, mengatakan Forest Youthverse dirancang sebagai strategi pembinaan generasi muda yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran, tetapi juga mendorong lahirnya aksi konkret bagi pelestarian hutan.
"Forest Youthverse kami hadirkan sebagai ruang bagi generasi muda untuk belajar, berkolaborasi, dan menghadirkan aksi nyata bagi kelestarian hutan. Kami berharap dari Kupang lahir semakin banyak Smart Eco-Generation yang mampu menjadi penggerak pelestarian hutan di Nusa Tenggara Timur maupun Indonesia,"ujar Luckmi dalam keterangan tertulis, dikutip, Selasa, 21 Juli 2026.
Sementara itu, Kepala Balai P2SDM Wilayah VII Kupang menilai kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap kelestarian hutan sekaligus memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga kawasan hutan di NTT.
"Antusiasme peserta selama rangkaian Forest Youthverse menunjukkan besarnya potensi generasi muda Nusa Tenggara Timur dalam mendukung pelestarian hutan. Balai P2SDM Wilayah VII Kupang siap terus memperkuat kolaborasi dan mendukung pembinaan generasi muda agar semakin banyak aksi nyata lahir dari daerah,"ucapnya.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai kegiatan berbasis pengalaman lapangan. Pada hari pertama, mereka melakukan pemeliharaan tanaman di KHDTK Mapoli, menyaksikan peresmian Camping Ground Sakawanabakti dan Basecamp Genries, menjelajahi kawasan hutan, hingga mengunjungi Persemaian Fatukoa untuk mempelajari proses pembibitan tanaman hutan.
Peserta juga mengikuti Forest Reflection Circle, Forest Connection, serta Forest Innovation Workshop untuk menyusun rancangan solusi terhadap berbagai persoalan kehutanan di daerah asal masing-masing.
Memasuki hari kedua, peserta mempresentasikan gagasan inovatif melalui Forest Youth Forum dan Forest Innovation Pitching. Berbagai ide tersebut memperoleh masukan dari Kepala Balai P2SDM Wilayah VII Kupang, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, serta perwakilan PLAN Indonesia di NTT.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Forest Ideas Cafe dan pembacaan Forest Youth Commitment sebagai bentuk komitmen bersama untuk terus berkontribusi dalam pelestarian hutan.
Kementerian Kehutanan menegaskan, pembinaan tidak berhenti pada pelaksanaan summit. Seluruh peserta akan bergabung dalam jejaring Generasi Pelestari Hutan (Genries) dan mendapatkan pendampingan lanjutan untuk mengimplementasikan berbagai inovasi serta memperluas aksi pelestarian hutan di Nusa Tenggara Timur. Program ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak generasi muda yang aktif menjaga keberlanjutan hutan Indonesia.










