TVRINews, Cilacap
Pemerintah meluncurkan program nasional skrining tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi warga binaan pemasyarakatan sebagai upaya memperkuat layanan kesehatan di lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan). Program hasil kolaborasi Kementerian Kesehatan dan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) itu ditargetkan menjangkau lebih dari 321 ribu peserta di seluruh Indonesia hingga akhir 2026.
Peluncuran program bertajuk Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG)digelar di Lapas Kelas IIA Ngaseman, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Senin, 29 Juni 2026, dan merupakan bagian dari program prioritas (Quick Win) Presiden Republik Indonesia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan seluruh masyarakat, termasuk warga binaan pemasyarakatan, memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan kesehatan.
"Pak Presiden berpesan agar program ini dilakukan kepada seluruh masyarakat, siapa pun mereka, termasuk 272 ribu warga binaan di lebih dari 532 lapas dan rutan di seluruh Indonesia," kata Menkes Budi dalam keterangan yang diterima tvrinews, Selasa, 30 Juni 2026.
Menurut Budi, pemeriksaan kesehatan secara berkala penting agar warga binaan tetap sehat selama menjalani masa pidana dan dapat kembali ke masyarakat dengan kondisi kesehatan yang baik.
Menkes juga menyoroti tingginya risiko penularan tuberkulosis di lingkungan lapas. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, prevalensi TB di lapas mencapai 0,54 persen, lebih tinggi dibandingkan prevalensi nasional yang berada di angka 0,3 persen. Kepadatan hunian menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi penularan penyakit tersebut.
"TB ini menular dan jangan dianggap remeh. Tapi pengobatannya ada. Kalau ketahuan sejak awal, diobati pasti sembuh dan tidak menularkan lagi. Inilah mengapa skrining TB kita lakukan di lapas agar angka kematian akibat TB bisa menurun tajam," jelasnya.
Selain skrining TB, Kementerian Kesehatan juga mendorong deteksi dini penyakit tidak menular, seperti stroke dan penyakit jantung. Menkes mengingatkan pentingnya menjaga tekanan darah di bawah 120/80 mmHg, kadar gula darah di bawah 200 mg/dL, dan kadar kolesterol di bawah 200 mg/dL sebagai indikator kesehatan utama.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menyatakan pihaknya mendukung penuh pelaksanaan program tersebut sebagai bagian dari upaya mempercepat eliminasi TB di Indonesia pada 2030.
"Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TB tertinggi kedua di dunia setelah India. Oleh karena itu, diperlukan langkah luar biasa, termasuk deteksi dini di lingkungan pemasyarakatan yang memiliki risiko penularan tinggi," ungkap Agus.
Ia menambahkan, Kemenimipas telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk memperkuat fasilitas kesehatan di lapas dan rutan.
"Sebagian alat kesehatan sudah kami terima, dan ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi warga binaan," tambahnya.
Sebelum peluncuran program, Menkes Budi bersama Menimipas Agus juga meninjau Rumah Sakit Umum Pemasyarakatan Nusakambangan. Pada kesempatan tersebut, Kementerian Kesehatan menyerahkan bantuan alat kesehatan senilai Rp2,2 miliar yang berasal dari kolaborasi RS Fatmawati, RS Kanker Dharmais, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), serta dukungan mitra swasta untuk memperkuat layanan kesehatan di lingkungan pemasyarakatan.
Sementara itu, Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Andi Saguni menjelaskan, program skrining TB dan Cek Kesehatan Gratis akan dilaksanakan secara bertahap di 532 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan yang tersebar di 34 provinsi hingga akhir 2026.
Program tersebut menargetkan 321.449 peserta, yang terdiri atas 272.573 warga binaan dan 48.876 petugas pemasyarakatan. Adapun pelaksanaan perdana di Nusakambangan berlangsung selama empat hari, mulai 29 Juni hingga 1 Juli 2026, dengan sasaran 5.768 peserta, terdiri atas 4.842 warga binaan dan 926 petugas.
Layanan yang diberikan meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, tes cepat HIV, skrining TB menggunakan foto rontgen dada, serta pemeriksaan dahak bagi peserta yang bergejala untuk memastikan penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.










