TVRINews, Jakarta
Kementerian Pertahanan mengubah pola pelatihan bagi Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang dipersiapkan sebagai calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih. Program yang sebelumnya menggunakan pendekatan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) kini berfokus pada pembekalan bela negara dan penguatan kompetensi manajerial.
Penyesuaian tersebut dilakukan sebagai hasil evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program, termasuk setelah insiden meninggalnya lima peserta saat mengikuti pelatihan.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan perubahan tidak hanya menyangkut istilah, tetapi juga substansi materi yang diberikan kepada peserta.
"Kemhan melakukan penyesuaian pendekatan kegiatan. Terminologi dan pelaksanaan kegiatan saat ini diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial, bukan latsarmil lagi," kata Rico dalam keterangannya, Selasa, 30 Juni 2026.
Rico menjelaskan, materi yang berkaitan dengan keterampilan teknis kemiliteran akan dikurangi. Bahkan, latihan menembak yang sebelumnya masuk dalam rangkaian kegiatan kini tidak lagi diberikan kepada peserta.
Sebagai gantinya, pelatihan diarahkan untuk membangun karakter kepemimpinan, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, tanggung jawab, serta keterampilan mengelola organisasi yang dibutuhkan dalam mengembangkan koperasi di daerah.
"Fokus kegiatan diarahkan pada pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola koperasi," ujarnya.
Selain melakukan penyesuaian materi, Kemhan memperketat pengawasan terhadap kondisi kesehatan peserta selama mengikuti pelatihan. Pemeriksaan kesehatan dilakukan sebagai dasar penentuan intensitas aktivitas fisik agar sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta.
Sebelumnya, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia mengatakan evaluasi juga menyasar sistem pembelajaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan peserta.
"Atas arahan Menteri Pertahanan, penyelenggara telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek kesehatan," ujar Ketut.
Menurutnya, metode pelatihan ke depan akan lebih mengedepankan pembelajaran yang adaptif, membangun kerja sama, mengasah kemampuan menyelesaikan masalah, serta menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif. Di sisi lain, kesiapan layanan kesehatan juga diperkuat agar penanganan medis dapat dilakukan lebih cepat apabila diperlukan selama pelatihan berlangsung.










