TVRINews, Lahat
Kedatangan Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, di Kawasan Transmigrasi Kikim, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi warga transmigran di sana. Warga merasa sejak program transmigrasi kali pertama dilakukan di wilayah tersebut pada tahun 1982, baru kali ini mereka dikunjungi dan ditinjau langsung oleh jajaran pemerintah pusat.
Saat tiba di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kikim Timur, Viva Yoga disambut meriah oleh para transmigran, siswa-siswi sekolah, guru, para kepala desa, unsur Muspika, Muspida, anggota DPRD, serta Bupati Lahat Bursah Sarnubi dan Wakil Bupati Widia Ningsih beserta jajaran pejabat daerah lainnya. Kunjungan kerja ini dilakukan dalam rangka Peresmian Pembangunan dan Rehabilitasi Sarana Sekolah di Kawasan Transmigrasi.
Dalam sejarahnya, transmigran asal Pulau Jawa pertama kali tiba di Lahat pada tahun 1982 dengan penempatan di Satuan Pemukiman 1 sebanyak 400 KK dan Satuan Pemukiman 2 sebanyak 500 KK. Program penempatan warga transmigrasi tersebut terus berlangsung secara berkelanjutan hingga tahun 2016.
Setelah 44 tahun berjalan, kawasan yang dulunya berupa hutan lebat kini telah bertransformasi menjadi desa berkembang dengan berbagai fasilitas penunjang. Viva Yoga menjelaskan bahwa dahulu pelaksanaan transmigrasi digerakkan sepenuhnya oleh pusat.
"Dulu transmigrasi dilakukan secara top down atau langsung dari program pemerintah pusat," ujar Viva Yoga dalam keterangannya, Rabu 15 Juli 2026.
Berbeda dengan masa lalu, sistem transmigrasi saat ini telah mengalami pergeseran paradigma menjadi desentralisasi yang berbasis pada kebutuhan daerah.
"Sekarang transmigrasi dilakukan secara bottom up, desentralisasi, atas inisiatif atau keinginan pemerintah daerah sendiri. Terbukti transmigrasi mampu menciptakan kawasan pertumbuhan maka ada 60 proposal dari bupati untuk membuka kawasan baru transmigrasi," paparnya.
Terkait pengembangan kawasan baru tersebut, ia menegaskan pentingnya komitmen dari pemerintah daerah setempat, terutama mengenai kepastian hukum atas tanah yang akan digunakan.
"Agar tidak terjadi tumpang tindih lahan dan membawa masalah ke depannya," tuturnya.
Di sisi lain, Viva Yoga tidak menampik adanya sejumlah persoalan klasik yang masih terjadi di berbagai kawasan transmigrasi, termasuk di Kikim. Permasalahan tersebut di antaranya berupa tumpang tindih lahan dengan kawasan hutan serta status tanah warga yang belum bersertifikat Hak Milik atau SHM.
Menanggapi persoalan pelik tersebut, Kementerian Transmigrasi saat ini tengah gencana merealisasikan program bertajuk Trans Tuntas sebagai solusi menyeluruh.
"Program ini focus untuk menyelesaikan sengketa lahan di kawasan transmigrasi dan melalukan sertipikati lahan yang ditempati transmigran," ungkapnya.
"Trans Tuntas telah menyelesaikan beberapa sengketa lahan dan mensertipikati ribuan lahan milik transmigran menjadi SHM," tambahnya.
Melalui program Trans Tuntas, Kementerian Transmigrasi berkomitmen untuk terus bergerak di lapangan hingga seluruh sengketa lahan yang dihadapi warga transmigran terselesaikan secara total.
Sementara itu, peresmian hasil pembangunan dan rehabilitasi sarana pendidikan dipusatkan di SDN 18 Kikim Timur. Di kawasan ini, terdapat lima sekolah yang mendapatkan bantuan renovasi pada bagian-bagian krusial seperti ruang kelas dan fasilitas toilet.
"Setiap tahun anggaran, program ini Kita jalankan lebih dari seratus sekolah di 154 kawasan transmigrasi yang tersebar di seluruh Indonesia," paparnya.
Selama kunjungan tersebut, mantan Presidium MN KAHMI ini juga menyerap banyak aspirasi mengenai masih adanya bangunan sekolah lain yang memerlukan perhatian. Menyikapi hal itu, ia menyatakan bahwa Kementerian Transmigrasi telah bersepakat untuk bersinergi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah atau Kemendikdasmen, di mana pihak Kemendikdasmen sendiri tengah membidik target renovasi sekolah di 70.000 titik.
"Dari sini, ribuan sekolah lain di kawasan transmigrasi yang perlu dibangun dan rehab, akan Kita masukan dalam program kerja sama antara Kementrans dan Kemendikdasmen," tegasnya.
Langkah perbaikan sarana pendidikan ini akan terus dikebut demi mencetak generasi muda yang berkualitas dan kompetitif dari wilayah transmigrasi.
"Saya lihat anak-anak sekolah di sini unggul, cerdas, ceria, dan sehat-sehat," ucap Viva Yoga, yang berharap atmosfer positif dan kualitas SDM unggul tersebut dapat terwujud secara merata di seluruh kawasan transmigrasi di Indonesia.










