TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan pengembangan vaksin Tuberkulosis (TBC) buatan dalam negeri harus dipercepat sebagai bagian dari strategi memperkuat pengendalian penyakit yang masih menjadi persoalan kesehatan utama di Indonesia.
Menurut Benjamin, upaya menekan kasus TBC tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan. Diperlukan inovasi yang didukung riset dan kolaborasi berbagai pihak agar Indonesia mampu menghasilkan vaksin sendiri sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk dari luar negeri.
"Penanganan TBC membutuhkan kerja sama seluruh pemangku kepentingan. Pengembangan vaksin nasional menjadi salah satu investasi penting untuk memperkuat upaya pencegahan sekaligus mendukung kemandirian kesehatan Indonesia," ujar Benjamin dalam keterangan yang dikutip, Jumat, 17 Juli 2026.
Benjamin menambahkan, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, BRIN, industri farmasi, dan regulator perlu terus diperkuat agar proses penelitian hingga produksi vaksin dapat berjalan lebih cepat.
Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, memastikan pihaknya akan memberikan pendampingan terhadap setiap tahapan pengembangan vaksin dalam negeri, mulai dari riset hingga proses perizinan.
"BPOM berkomitmen menciptakan iklim yang mendukung inovasi, tanpa mengurangi standar keamanan, mutu, dan efektivitas yang harus dipenuhi setiap produk sebelum digunakan masyarakat," kata Taruna.
Pada kesempatan yang sama, PT Bio Farma bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) memperkenalkan Bio-TCV, vaksin tifoid terbaru hasil pengembangan peneliti dalam negeri.
Direktur Utama PT Bio Farma, Shadiq Akasya, mengatakan peluncuran Bio-TCV menunjukkan kapasitas Indonesia dalam membangun ekosistem pengembangan vaksin dari tahap penelitian hingga produksi.
"Keberhasilan menghadirkan Bio-TCV menjadi bukti bahwa kolaborasi antara dunia riset, industri, dan pemerintah mampu menghasilkan inovasi kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat luas," ujar Shadiq.
Selain memperluas cakupan imunisasi, Bio Farma menilai pengendalian penyakit menular juga perlu didukung dengan peningkatan sanitasi dan edukasi masyarakat mengenai perilaku hidup bersih dan sehat.










