TVRINews, Jakarta
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, meminta pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh fenomena sejumlah sekolah dasar negeri (SDN) yang hanya menerima sedikit peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal perlunya pemerataan kualitas pendidikan di berbagai daerah.
Hetifah mengatakan, laporan mengenai rendahnya jumlah siswa baru di sejumlah SDN telah menjadi perhatian Komisi X DPR. Meski tidak terjadi secara merata di seluruh Indonesia, kondisi itu dinilai mencerminkan adanya ketimpangan dalam distribusi peserta didik.
"Kami melihat persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah anak usia sekolah, tetapi juga dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat terhadap kualitas layanan pendidikan di setiap sekolah," kata Hetifah, Jumat, 17 Juli 2027.
Ia menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya minat masyarakat terhadap sekolah tertentu. Selain perubahan demografi di sejumlah wilayah, kesenjangan mutu antarsekolah juga membuat orang tua lebih selektif dalam menentukan tempat belajar bagi anak-anak mereka.
"Pemerataan kualitas pendidikan harus menjadi prioritas. Sekolah yang selama ini kurang diminati perlu diperkuat agar memiliki daya saing yang sama dan mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas," ujarnya.
Hetifah menambahkan, penanganan persoalan tersebut tidak cukup hanya melalui kebijakan penerimaan murid baru. Pemerintah juga perlu menyusun perencanaan pendidikan yang berbasis data kependudukan, termasuk penataan jumlah sekolah, rombongan belajar, distribusi tenaga pendidik, hingga pembangunan satuan pendidikan sesuai kebutuhan daerah.
Komisi X DPR RI, lanjut Hetifah, akan terus mengawal kebijakan pemerintah agar setiap anak memperoleh akses pendidikan yang bermutu tanpa bergantung pada sekolah tertentu.
Fenomena minimnya peserta didik baru terjadi di sejumlah daerah di Pulau Jawa. Di Kota Semarang, Jawa Tengah, SDN Purwoyoso 01 hanya menerima tiga siswa baru pada tahun ajaran ini. Meski demikian, sekolah tetap menyelenggarakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara meriah dengan mengusung tema sirkus.
Sementara di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, SDN 2 Cepokosawit hanya memiliki satu siswa baru. Pihak sekolah memastikan proses pembelajaran tetap berlangsung secara optimal sebagai bentuk tanggung jawab terhadap peserta didik yang telah mempercayakan pendidikannya di sekolah tersebut.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. SDN 2 Plandaan tahun ini hanya menerima dua peserta didik baru, sehingga menjadi gambaran bahwa tantangan pemerataan pendidikan masih memerlukan perhatian bersama dari pemerintah pusat maupun daerah.










