TVRINews – Jakarta
Pengendalian Ditingkatkan di Tengah Ancaman Kabut Asap dan Satwa Liar
Penurunan signifikan jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi tercatat secara nasional. Berdasarkan data pemantauan hingga Kamis pagi 17 September 2026, instansi berwenang mendeteksi 479 titik panas, yang menunjukkan penurunan sebanyak 558 titik dibandingkan hari sebelumnya.
Meski indikator termal menunjukkan tren positif, pemerintah menegaskan bahwa operasi darat dan udara tetap diperkuat. Langkah ini diambil guna mengantisipasi risiko kebakaran lanjutan serta memitigasi dampak asap yang masih membahayakan sejumlah wilayah dan habitat satwa liar.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari pengamatan satelit (NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20) mencatat penurunan serentak di enam provinsi prioritas hingga pukul 21.00 WIB. Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah memimpin jumlah penurunan, namun tetap menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi.
Pihak kementerian menjelaskan bahwa satu kejadian kebakaran kerap memicu beberapa deteksi anomali suhu pada satelit. Oleh karena itu, setiap laporan terus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan secara faktual.
Koordinasi Lintas Sektor dan Tantangan Operasi Udara
Upaya pemadaman di lapangan digerakkan secara kolaboratif oleh Manggala Agni bersama TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemerintah daerah, serta masyarakat dan dunia usaha.
Pemerintah mengerahkan total 53 armada udara untuk mendukung operasi di enam provinsi prioritas, yang mencakup pesawat untuk water bombing maupun patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kendati mendapat tambahan kekuatan berupa tiga helikopter CH-47 Chinook dari Jepang, faktor keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama. BNPB melaporkan bahwa jarak pandang yang rendah akibat kabut asap di Kalimantan Barat sempat membatasi pengoperasian armada udara tersebut.
"Operasi udara tidak dipaksakan ketika kondisi visibilitas belum memenuhi aspek keselamatan penerbangan," ujar perwakilan penanggulangan bencana dalam laporan operasionalnya.
Mitigasi Dampak terhadap Satwa Liar
Dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tidak hanya dirasakan oleh sektor kesehatan dan lingkungan, tetapi juga memaksa satwa liar keluar dari kawasan perlindungan alami mereka. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) bersama mitra konservasi terus meningkatkan patroli penyelamatan.
Di Kalimantan Barat, sinergi antara BKSDA dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mencatat evakuasi terhadap 21 individu orangutan serta 12 satwa liar lainnya, termasuk trenggiling, bekantan, dan kukang.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat agar tidak melakukan evakuasi mandiri, melainkan segera melaporkan temuan satwa terdampak kepada petugas melalui call center resmi yang telah disiagakan selama 24 jam.
Proyeksi Kualitas Udara dan Imbauan Publik
Pemantauan kualitas udara berdasarkan parameter PM2,5 menunjukkan variasi kondisi di berbagai wilayah. Sebagian besar daerah berada pada kategori baik hingga sedang, namun beberapa area di Sumatera dan Kalimantan masih mencatat tingkat kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
BMKG mencatat variasi jarak pandang akibat kabut asap, seperti di Pontianak yang berada pada kisaran 5 kilometer, serta potensi penurunan visibilitas drastis pada pagi hari di sekitar Pelabuhan Dwikora Pontianak.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruang, mengenakan masker, serta memberikan perhatian ekstra kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga dengan riwayat gangguan pernapasan. Pemerintah juga kembali menegaskan larangan membuka lahan dengan cara membakar demi mencegah eskalasi krisis lingkungan yang lebih luas.










