TVRINews, Jakarta
Akses pendidikan bagi anak-anak Suku Anak Dalam (SAD) di Pasir Putih, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, Jambi, terus mengalami perkembangan berkat pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan sejak 2014. Berawal dari sekolah alam sederhana, kini masyarakat bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan tengah merintis Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk memperluas layanan pendidikan di komunitas tersebut.
Inisiatif ini berawal dari pendampingan yang dilakukan Ulvi Monica Aulia, lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Jambi, yang bergabung sebagai pendamping komunitas SAD. Kegiatan belajar mula-mula berlangsung di sudung-sudung atau pondok sederhana, kemudian berkembang menjadi rumah belajar dan perpustakaan komunitas.
Pada 2023, berdiri Ghumah Belajo Bhetilek Elmu yang dalam bahasa Rimba berarti Rumah Belajar Mencari Ilmu. Tempat tersebut kini menjadi pusat kegiatan belajar bagi anak-anak untuk membaca, menulis, berhitung, mengerjakan tugas sekolah, serta mengikuti berbagai aktivitas pengembangan diri.
"Alhamdulillah, antusiasme anak-anak sangat tinggi. Mereka datang dengan semangat untuk belajar membaca, menulis, berhitung, mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah, serta mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri. Kami bersyukur karena pendampingan yang dilakukan selama ini mulai menunjukkan hasil. Saat ini semakin banyak anak-anak komunitas yang telah bersekolah di pendidikan formal, bahkan sudah ada yang berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi. Tahun ini, salah satu anak dampingan kami juga sedang mengikuti proses pendaftaran kuliah di AKBID Amanah Muara Bungo,"kata Ulvi dalam keterangan tertulis, dikutip, Rabu, 5 Agustus 2026.
Ulvi menjelaskan, hingga saat ini anak-anak SAD masih menghadapi berbagai kendala untuk mengakses PAUD di luar komunitas. Selain faktor jarak, masih terdapat stigma dari sebagian masyarakat yang membuat orang tua merasa kurang nyaman menyekolahkan anak-anak mereka di luar lingkungan komunitas.
Akibatnya, banyak anak yang langsung masuk sekolah dasar tanpa pernah mengikuti pendidikan usia dini. Kondisi tersebut membuat mereka kerap mengalami kesulitan dalam mengikuti proses belajar maupun beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
Karena itu, menurut Ulvi, keberadaan PAUD di dalam komunitas menjadi solusi penting agar anak-anak memperoleh pendidikan sejak dini tanpa harus meninggalkan lingkungan dan budaya mereka.
"Harapannya, ketika mereka melanjutkan ke jenjang SD, mereka sudah memiliki kesiapan belajar yang lebih baik,"jelasnya.
Ia berharap kehadiran PAUD tidak hanya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak SAD, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama yang mempererat hubungan antara komunitas Suku Anak Dalam dan masyarakat sekitar.
"Kalau melihat dampak hasilnya sudah cukup luar biasa. Anak-anak yang sebelumnya sama sekali belum mengenal pendidikan, sekarang sudah mulai mengenal huruf, angka, warna, dan memiliki bekal dasar sebelum memasuki jenjang sekolah dasar. Mereka juga menjadi lebih percaya diri, berani menyapa, berbincang, dan berinteraksi dengan orang-orang baru yang sebelumnya belum mereka kenal,"ucapnya.
Ulvi menuturkan, pada masa lalu masyarakat SAD dikenal tertutup dan cenderung menghindari interaksi dengan orang di luar komunitas. Namun, melalui proses pendampingan yang berlangsung selama bertahun-tahun, perubahan mulai terlihat, terutama pada anak-anak.
"Alhamdulillah melalui proses pendampingan yang berlangsung bertahun-tahun dan kegiatan belajar yang dilakukan secara konsisten, perubahan itu mulai terlihat. Anak-anak sekarang jauh lebih terbuka, lebih mudah diajak berkomunikasi, dan lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan siapa pun,"pungkasnya.
Kisah dari Kabupaten Bungo menjadi bukti bahwa pendidikan yang inklusif dapat terwujud melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan berbagai pemangku kepentingan. Pendampingan yang dilakukan secara konsisten telah membuka kesempatan belajar yang lebih setara bagi anak-anak Suku Anak Dalam sekaligus mendorong mereka meraih masa depan yang lebih baik.









