TVRINews, Kudus
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong pembelajaran Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) agar lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari anak.
Pendekatan tersebut dikembangkan melalui konsep 5M, yakni Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful. Lingkungan sekitar seperti sawah, rumput, hingga berbagai jenis hewan dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar sains tanpa membutuhkan laboratorium atau peralatan berbiaya mahal.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menilai perubahan pola pikir menjadi hal penting untuk membuat pembelajaran sains lebih dekat dan mudah dipahami anak.
“Bangun mindset menentukan bagaimana kita melakukan sesuatu sehingga mindset kita ubah dengan scienceitu mudah. Semua orang bisa menjadi saintis dan murah, tidak harus membeli peralatan lab yang mahal. Bisa dari keseharian, di mana anak-anak menemukan banyak hal di sekitarnya, dan belajar sains itu menggembirakan, mindful dan meaningful,” kata Mu’ti dalam keterangan yang diterima tvrinews, Kamis, 3 September 2026.
Menurut Abdul Mu'ti, pengenalan sains perlu dilakukan sejak pendidikan anak usia dini (PAUD), sejalan dengan gagasan wajib belajar 13 tahun. Rasa ingin tahu anak juga perlu diberikan ruang agar pembelajaran sains berlangsung secara menyenangkan.
“Mereka bisa tanya apa saja dan semuanya spontan sehingga sains bisa menggembirakan kalau rasa ingin tahu itu tidak kita batasi dan takut-takuti,” jelasnya.
Abdul Mu'ti mencontohkan, anak-anak dapat diajak mengamati lingkungan di sawah, mulai dari rumput, padi, katak, belalang, semut, hingga berbagai objek lain yang ditemukan di alam. Menurutnya, pengalaman langsung tersebut membantu anak memahami bahwa sains merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Sains tidak boleh menjauhkan dari lingkungan alam di mana mereka berada karena alam adalah tempat belajar,” ucapnya.
Ia juga menekankan pentingnya memberikan kesempatan kepada anak untuk menciptakan sesuatu dan melakukan eksplorasi melalui pengalaman belajar yang menyenangkan.
“Kita dorong mereka mencipta. Pengalaman itu sangat penting untuk memancing rasa ingin tahu mereka.dalam suasana yang menggembirakan,” lanjutnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Nunuk Suryani mengatakan STEM selama ini masih kerap dipandang sebagai bidang yang mahal dan sulit diterapkan di sekolah.
“Kami menyadari, selama ini STEM diidentikkan sebagai bidang mahal dan sulit untuk diterapkan dalam pembelajaran. Stigma ini menjadi salah satu alasan mendorong kami untuk merancang Program STEM secara menyeluruh, termasuk di dalamnya penguatan kompetensi guru melalui pelatihan STEM yang mengusung prinsip 5M, yaitu Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful,” ungkap Nunuk.
Melalui pendekatan 5M, Kemendikdasmen ingin STEM menjadi bagian dari cara berpikir anak dalam menghadapi persoalan sehari-hari. Proses pembelajaran diarahkan agar murid terbiasa mengamati, bertanya, mencari solusi, mencoba, mengevaluasi, hingga menciptakan sesuatu yang bermakna.
Guru menjadi salah satu penggerak utama dalam membangun pengalaman belajar tersebut agar tetap menyenangkan sekaligus relevan dengan lingkungan anak.
“Peluncuran ini bukan sebagai awal kegiatan, tetapi menjadi sebuah katalis dalam praktik pedagogis yang menghubungkan konsep lintas disiplin dengan konteks nyata sekaligus memfasilitasi praktik saintifik, enjinering, komunikasi ilmiah, dan kolaborasi,” lanjutnya.
Penerapan STEM juga dirasakan guru di tingkat pendidikan anak usia dini. Fitri Anggraeni, guru RA Miftahul Falah Dawe, mengaku senang dengan peluncuran STEM Nasional karena menyadari sejumlah aktivitas pembelajaran yang selama ini dilakukan ternyata telah menerapkan konsep STEM.
“Alhamdulillah, memang sedikit banyak aktivitas pembelajaran selama ini ternyata sudah terkait dengan STEM. Anak-anak memang terlihat lebih bersemangat mengikuti pelajaran ketika diajak dalam suasana bermain. Seperti membuat bangun ruang menggunakan kardus, belajar numerasi sambil bernyanyi, dan lain-lain,” ujar Fitri.
Guru RA Miftahul Huda 1 Dawe, Syafaatun Nimah, juga menilai pembelajaran berbasis STEM memberikan pengalaman yang lebih kaya bagi dirinya dan para murid.
“Tak jarang saya takjub dengan reaksi dan umpan balik yang diberikan anak-anak. Sebab, sering kali justru saya belajar dari mereka. Ruang interaksi antara guru dan murid, membuat saya belajar hal baru dan terpacu untuk menjadi pengajar yang lebih baik lagi untuk anak-anak,” tuturnya.










