TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Agama yang juga Koordinator Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI), Romo Muhammad Syafii, menegaskan KAHMI bukan bagian dari struktur pemerintah maupun organisasi oposisi.
Menurutnya, KAHMI merupakan kekuatan masyarakat sipil yang independen dengan mengambil posisi sebagai mitra strategis pemerintah secara kritis dan konstruktif.
“KAHMI tidak berada di dalam struktur pemerintah. Namun, KAHMI siap menjadi mitra strategis pemerintah mendukung kebijakan yang baik bagi rakyat, sekaligus memberikan kritik, koreksi, dan rekomendasi konstruktif untuk memastikan pembangunan berjalan pada arah yang tepat,” ujar Romo Syafii dalam keterangan tertulis, dikutip, Kamis, 10 September 2026.
Simposium bertajuk “KAHMI untuk Kedaulatan Bangsa” tersebut berlangsung selama dua hari, 9–10 September 2026, di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Milad KAHMI ke-60 sekaligus forum untuk membahas sejumlah persoalan strategis dan merumuskan gagasan bagi umat, bangsa, dan negara. Hampir 1.000 peserta dari keluarga besar MN KAHMI dari berbagai daerah turut mengikuti kegiatan tersebut.
Romo Muhammad Syafii mengatakan, simposium menjadi ruang konsolidasi pemikiran para alumni HMI sekaligus merumuskan agenda strategis KAHMI dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa.
“Di usia ke-60 ini, KAHMI harus terus melahirkan gagasan-gagasan yang memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan negara. Simposium nasional ini kita gagas sebagai ruang untuk mengonsolidasikan pemikiran dan merumuskan agenda strategis KAHMI ke depan,” jelasnya.
Ia berharap hasil pembahasan dalam simposium tidak hanya menjadi gagasan internal organisasi, tetapi dapat dirumuskan menjadi rekomendasi strategis bagi Presiden Prabowo Subianto. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat menjadi masukan dalam agenda pembangunan nasional sekaligus upaya mewujudkan kedaulatan bangsa.
“Gagasan kebangsaan dan keumatan dalam Simposium Nasional MN KAHMI ini akan kita rumuskan menjadi rekomendasi strategis untuk disampaikan kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Ini adalah bentuk kontribusi KAHMI dalam memberikan pemikiran dan solusi bagi pembangunan serta masa depan Indonesia,” ucapnya.
Ia menilai kontribusi KAHMI kepada pemerintah merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan intelektual para alumni HMI dalam ikut menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. KAHMI, lanjutnya, tidak ingin hanya menjadi penonton, tetapi mengambil peran sebagai mitra yang turut memberikan pemikiran, solusi, serta mengawal perjalanan bangsa.
Simposium Nasional MN KAHMI dibuka oleh Ketua MPR RI Ahmad Muzani. Sejumlah tokoh nasional turut hadir, di antaranya Ketua Dewan Penasihat MN KAHMI Ir. Akbar Tanjung, Presidium MN KAHMI Ahmad Doli Kurnia, dan Dr. Sutomo.
Pada hari pertama, simposium menghadirkan Dewan Penasihat MN KAHMI Fuad Bawazier, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, serta Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Bambang Hariyadi sebagai pemateri.
Ahmad Muzani mengatakan, alumni HMI memiliki kontribusi besar dalam perjalanan umat, bangsa, dan negara. Ia berharap forum tersebut menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi kemajuan Indonesia.
Sementara itu, Ketua Panitia Simposium Nasional MN KAHMI, George Edwin Sugiharto, mengatakan rangkaian kegiatan akan dilanjutkan pada Kamis, 10 September 2026.
Pada hari kedua, forum dijadwalkan menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto serta Wakil Menteri Kesehatan dr. Benny sebagai pemateri.
George mengajak keluarga besar dan pengurus KAHMI mengikuti agenda hari kedua untuk memperkaya pembahasan dan penyusunan rekomendasi strategis.
“Besok kita akan melanjutkan simposium dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari pemerintah. Kami mengajak seluruh keluarga besar dan pengurus KAHMI untuk hadir bersama-sama memperkaya gagasan dan merumuskan rekomendasi strategis yang dapat menjadi kontribusi KAHMI bagi pemerintah, kedaulatan, dan masa depan bangsa,” pungkasnya.










