TVRINews – Jakarta
Tim gabungan kerahkan helikopter khusus menyisir perairan Gunung Anak Krakatau demi temukan korban hilang.
Upaya pencarian terhadap delapan orang yang terdiri dari awak kapal, pemandu wisata, serta rombongan wartawan di perairan Selat Sunda memasuki fase baru. Tim SAR gabungan resmi mengerahkan kekuatan udara menggunakan helikopter khusus guna memaksimalkan penyisiran di zona yang sulit dijangkau melalui jalur laut.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Banten, Al Amrad, mengonfirmasi bahwa pihaknya menerjunkan armada helikopter Dauphin AS365 N3+ dengan nomor registrasi HR-3604 milik Basarnas. Pesawat udara tersebut diterbangkan langsung dari Pangkalan Udara Atang Sendjaja untuk memperkuat pemantauan di titik-titik krusial.
"Pengerahan helikopter Dauphin merupakan langkah penguatan pencarian sebagai bentuk dukungan udara guna membantu pemantauan tim yang bergerak di permukaan laut," ujar Al Amrad melalui keterangan tertulis Kamis 10 September 2026.
Operasi udara ini melibatkan tujuh personel kru berpengalaman yang memetakan sektor pencarian melintasi kawasan Pantai Carita hingga perairan sekitar Gunung Anak Krakatau. Kehadiran armada udara diharapkan mampu memangkas waktu deteksi di tengah luasnya cakupan wilayah operasional Selat Sunda.
Sebelumnya, tantangan cuaca serta faktor aktivitas vulkanik sempat membatasi pergerakan tim penyelamat. Kapolda Banten, Irjen Pol. Hengki, sebelumnya menyatakan bahwa operasi udara pada tahap awal belum dapat dilakukan secara maksimal demi keselamatan personel akibat kondisi erupsi gunung berapi yang fluktuatif.
Kendati demikian, evaluasi berkala terus dilakukan untuk menyesuaikan strategi di lapangan. Kolaborasi lintas instansi yang melibatkan unsur Polri, TNI, Basarnas, serta jejaring relawan kini memfokuskan pengerahan sumber daya secara terpadu.
Peristiwa bermula ketika sebuah kapal cepat yang membawa rombongan peliputan bertolak menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada Senin 7 Septemebr 2026 siang. Berdasarkan data posko operasi, kapal tersebut kehilangan kontak di antara jalur Pantai Carita dan kepulauan gunung berapi dalam estimasi waktu pelayaran awal.
Hingga memasuki hari ini (kamis 10 September 2026) pelaksanaan operasi SAR, tim gabungan terus menyiagakan seluruh armada laut dan udara demi menemukan para korban yang belum diketahui keberadaannya. Pendekatan berbasis pemantauan taktis kini dioptimalkan guna mempercepat kepastian hukum dan kemanusiaan bagi keluarga korban.










