TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, mendorong talenta desain untuk tidak hanya berfokus menghasilkan karya yang estetis dan fungsional, tetapi juga mampu memahami persoalan serta menciptakan desain yang memberikan dampak bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Irene saat menjadi pembicara dalam acara Master of Design BINUS (MODB) 2026: First Wave – The Convergence of Design yang digelar Master of Design BINUS di Jakarta.
Ia menilai desain memiliki kekuatan untuk memengaruhi hingga membentuk perilaku manusia. Karena itu, setiap karya desain perlu memiliki tujuan yang jelas dan tidak berhenti pada aspek visual maupun fungsi.
"Desain itu bisa membentuk behavior manusia. Karena itu, kita perlu melihat bagaimana desain tidak hanya estetis dan fungsional, tetapi juga bisa menjadi sesuatu yang transformatif terhadap perilaku manusia," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Minggu, 23 Agustus 2026.
Menurut Irene, pengaruh desain terhadap perilaku dapat terlihat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, termasuk pada desain ruang publik seperti sistem informasi dan signage. Desain tersebut tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga dapat memengaruhi cara masyarakat memahami informasi dan bertindak.
Karena itu, Irene mengingatkan talenta desain agar tidak membatasi diri berdasarkan subsektor maupun profesi tertentu. Menurutnya, seorang desainer perlu memahami perspektif dari berbagai bidang agar mampu menghasilkan solusi yang lebih relevan.
"Jangan hanya melihat diri kita berdasarkan subsektor atau profesi. Ketika kita mengerjakan sebuah proyek, yang paling penting adalah purpose dan mission-nya," ucapnya.
Lebih lanjut, ia menilai kolaborasi antara desain dengan teknologi, bisnis, arsitektur, maupun disiplin lainnya dapat memperluas perspektif talenta desain. Pemahaman lintas bidang tersebut dinilai penting agar desainer mampu melihat persoalan secara lebih utuh.
Kemudian, Irene juga mendorong perguruan tinggi menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk bereksperimen. Kampus, menurutnya, perlu menjadi sandbox yang memungkinkan mahasiswa mengajukan pertanyaan, melakukan kesalahan, mencoba berbagai pendekatan, hingga melakukan iterasi.
"Educate designers, shape the future. Kita perlu membangun desainer yang berpikir, bukan hanya memproduksi," tuturnya.
Di tengah perkembangan teknologi, Irene turut mendorong talenta desain memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) sebagai alat untuk mempercepat proses kreatif. Namun, pemanfaatan AI tetap perlu diimbangi dengan kemampuan manusia.
Selain AI literacy, Irene menekankan pentingnya kemampuan kepemimpinan dan systemic thinking, kesiapan terhadap kekayaan intelektual (IP-readiness), cultural intelligence, serta kemampuan designing impact.
Menurut Irene, kemampuan tersebut diperlukan agar desainer tidak hanya mampu menciptakan karya, tetapi juga memahami konteks, menjaga nilai karya, serta memastikan keputusan desain memiliki tujuan dan dampak yang jelas.
Kementerian Ekonomi Kreatif terus mendorong pengembangan talenta dan ekosistem desain melalui sejumlah program, di antaranya Badan Ekraf Digital Talent, Ekraf Design Festival, fasilitasi pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Cultural Design, Akselerasi Desain, dan Bedah Desain Kemasan.
Melalui MODB 2026, Irene berharap ruang pertemuan antara dunia pendidikan, pemerintah, industri, dan talenta desain semakin luas. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat ekosistem desain sekaligus melahirkan desainer yang mampu menjawab persoalan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.










