TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa kondisi cuaca di Selat Bali saat kecelakaan kapal KMP Tunu Pratama Jaya berlangsung tergolong normal.
Namun, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan kecepatan arus laut saat itu tercatat sedikit melampaui ambang batas yang direkomendasikan.
“Dari kondisi cuaca, terutama gelombang, kecepatan dan arah angin, itu semua normal,” kata Dwikorita, Senin, 7 Juli 2025.
Ia menjelaskan, kecepatan arus laut saat kejadian memang berada di atas batas yang ditetapkan BMKG, yaitu 1,2 meter per detik.
"Yang terjadi saat itu 1,4 meter per detik. Itu sudah kami pantau lewat radar maritim,” ujar Dwikorita.
Dalam rapat tersebut, Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mempertanyakan kembali apakah kondisi tersebut masih tergolong aman. Dwikorita menjawab bahwa kondisi arus laut saat itu masih masuk dalam kategori aman, namun berada di level waspada.
Baca Juga: Trump Ancam Tarif 10% ke BRICS, Menperin: Percayakan pada Tim Negosiator
“Kalau 1,2 aman. Kalau lebih dari itu, tergantung lebihnya seberapa. Karena ini hanya sedikit melampaui, maka risikonya berada di level paling rendah, yaitu waspada,” ucap Dwikorita.
Ia menambahkan, BMKG secara rutin memberikan briefing dua kali sehari kepada pihak pengelola pelabuhan dan operator kapal terkait kondisi cuaca dan laut.
“Saat itu sudah disampaikan dalam briefing pagi dan malam bahwa arus sedikit meningkat, tapi cuaca tetap normal,” kata Dwikorita.
Seperti diketahui, KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di perairan Selat Bali pada Rabu, 2 Juli 2025 lalu saat mengangkut 65 orang yang terdiri dari 53 penumpang dan 12 kru, serta membawa 22 unit kendaraan.
Hingga hari ini, 30 orang dinyatakan selamat, 7 orang meninggal dunia, dan 28 lainnya masih dalam pencarian. Tim gabungan terus melanjutkan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) dengan dukungan unsur TNI AL dan berbagai instansi.
Pada hari ini KRI Pulau Fanildo (732) berhasil menemukan satu jenazah laki-laki tanpa identitas sekitar 6 mil dari lokasi tenggelamnya kapal.
Jenazah telah dievakuasi ke KRI Tongkol (813) untuk dibawa ke Dermaga Pusri Palembang sebelum diserahkan ke RSUD Blambangan untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Operasi SAR masih akan terus dilanjutkan hingga batas waktu yang akan ditentukan kemudian.










