TVRINews, Jakarta
Kementerian Kebudayaan bersama Yayasan Pembela Tanah Air (PETA) membahas penguatan pelestarian sejarah perjuangan bangsa melalui pengembangan film bertema kepahlawanan. Pembahasan tersebut berlangsung dalam pertemuan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dengan jajaran Yayasan PETA Pusat di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta.
Pertemuan itu membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari penguatan literasi sejarah, pelestarian memori kolektif bangsa, hingga pengembangan narasi sejarah melalui karya perfilman.
Salah satu fokus pembahasan adalah rencana produksi film yang mengangkat perjuangan Shodanco Soeprijadi dan kiprah PETA dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Menurut Kementerian Kebudayaan, film tersebut diharapkan menjadi media edukasi sekaligus sarana diplomasi budaya untuk memperkenalkan sejarah perjuangan bangsa kepada masyarakat luas.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menjelaskan, Kementerian Kebudayaan saat ini juga tengah menyiapkan sejumlah film bertema perjuangan kemerdekaan.
“Tema besar yang kita batasi memang mengenai perang mempertahankan kemerdekaan, sesuai arahan Presiden. Jadi kita tidak menggunakan istilah revolusi, melainkan perang mempertahankan kemerdekaan, karena historiografi kita memang paling banyak berada pada periode 1945–1950,” ujar Menbud Fadli dalam keterangan pers, Kamis, 30 Juli 2026.
Fadli Zon mengajak Yayasan PETA berkolaborasi dalam proses produksi film tersebut. Menurutnya, naskah yang sedang disiapkan masih dapat dikembangkan bersama agar sesuai dengan data dan sumber sejarah yang dimiliki Yayasan PETA, sehingga menghasilkan karya yang kuat secara artistik sekaligus akurat secara historis.
Sementara itu, Ketua Yayasan PETA, Tinton Suprapto, mengusulkan agar sejarah PETA pada periode 1943–1945 diangkat dalam film tersendiri. Ia juga mengusulkan kisah Shodanco Soeprijadi diproduksi sebagai film panjang, sedangkan sejarah PETA dapat dikemas dalam format film pendek.
“Skenario film tersebut diinisiasi oleh Yayasan PETA dengan riset dan cerita yang telah selesai disusun oleh Jujur Prananto. Saat ini, proses produksi memasuki tahap penentuan sutradara, pembentukan tim kreatif, serta penyusunan kebutuhan anggaran dan skema investasi,” ungkap Tinton.
Selain membahas produksi film, pertemuan juga menyinggung perkembangan usulan gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan bagi para perintis PETA. Yayasan PETA telah mengajukan 20 nama, dengan 16 di antaranya telah mendapat persetujuan di tingkat Kementerian Sosial dan kini menunggu proses verifikasi lebih lanjut.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Kebudayaan dan Yayasan PETA akan menyelaraskan pengembangan naskah film dengan sumber-sumber sejarah, memfinalisasi rencana produksi film Shodanco Soeprijadi, serta menyusun skema investasi untuk mendukung proses produksinya.
Melalui kolaborasi ini, Kementerian Kebudayaan berharap sejarah perjuangan PETA dapat semakin dikenal oleh masyarakat, khususnya generasi muda, melalui media film yang informatif, inspiratif, dan memiliki nilai sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.









