TVRINews, Bandung
Moh. Jumhur Hidayat dorong replikasi inovasi pengolahan sampah organik menjadi bioetanol dan pupuk secara lebih luas.
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh. Jumhur Hidayat, melakukan tinjauan lapangan ke Pasar Induk Caringin, Kota Bandung. Kunjungan tersebut untuk memantau langsung pengelolaan sampah di salah satu pasar tradisional terbesar yang menjadi sumber timbulan sampah utama di wilayah perkotaan.
Dalam peninjauan, Menteri Jumhur melihat berbagai inovasi fasilitas pengolahan sampah yang telah berjalan secara mandiri. Sampah organik di pasar tersebut telah diolah menjadi kompos, silase, pupuk cair, hingga bioetanol. Sementara itu, sampah anorganik dikonversi menjadi briket biochar.
“Pengelolaan sampah yang baik tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah ekonomi dan membuka green jobs bagi masyarakat,” ujar Menteri Jumhur, dikutip Senin, 11 Mei 2026.
Menteri Jumhur mengapresiasi praktik baik yang dilakukan oleh pengelola Pasar Caringin. Ia menilai model pengolahan sampah yang mampu mengubah limbah menjadi produk bermanfaat seperti bahan bakar alternatif dan pupuk merupakan langkah maju yang perlu direplikasi di wilayah lain.
*Kapasitas Pengolahan Masih Menjadi Tantangan*
Meski mengapresiasi inovasi yang ada, Menteri KLH memberikan catatan terkait kapasitas pengolahan yang belum optimal dibandingkan dengan volume sampah yang dihasilkan setiap hari.
Berdasarkan data lapangan, Pasar Induk Caringin menghasilkan sekitar 50 ton sampah per hari. Namun, sekitar 15 ton di antaranya masih tertahan di Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan belum terolah sepenuhnya, sehingga memicu penumpukan, terutama pada akhir pekan.
“Praktik baik seperti ini perlu didukung dan direplikasi secara lebih luas. Namun, peningkatan kapasitas fasilitas pengolahan, penguatan sarana prasarana, serta optimalisasi sumber daya manusia tetap menjadi kebutuhan mendesak agar tidak ada lagi sampah yang tertahan di TPS,” tegasnya.
*Dorong Pengurangan Sampah dari Sumber*
KLH/BPLH memandang dominasi sampah organik di pasar tradisional sebagai peluang besar untuk pengembangan ekonomi sirkular. Sampah organik dapat dioptimalkan menjadi pakan fermentasi atau energi alternatif, sementara sampah anorganik menjadi bahan bakar padat.
Ke depan, kementerian akan terus mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, pengelola pasar, dan pemangku kepentingan untuk memperkuat tata kelola persampahan yang berfokus pada pengurangan di sumber.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sekaligus mempercepat terwujudnya sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di Indonesia.










