TVRINews, Tanjungpinang
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong pemanfaatan platform Rumah Pendidikan sebagai bagian dari program Digitalisasi Pembelajaran. Kehadiran platform tersebut dinilai mampu membantu guru menghadirkan proses belajar yang lebih interaktif, menarik, dan mudah dipahami peserta didik.
Salah satu implementasinya terlihat di SMP Negeri 16 Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Sekolah tersebut memanfaatkan Papan Interaktif Digital (PID) yang terintegrasi dengan Rumah Pendidikan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di kelas.
Guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SMP Negeri 16 Kota Tanjungpinang, Yolanda Farmin, mengaku penggunaan PID membawa perubahan positif terhadap keterlibatan siswa selama pembelajaran. Menurutnya, peserta didik kini lebih antusias dan berani berpartisipasi dibandingkan saat proses belajar dilakukan secara konvensional.
"Keaktifan anak mulai bertumbuh. Anak-anak yang biasanya tidak berani maju ke depan sekarang lebih ingin mencoba karena tertarik dengan konten-konten pembelajaran yang beragam,"kata Yolanda dalam keterangan tertulis, dikutip, Minggu, 26 Juli 2026.
Selain meningkatkan minat belajar siswa, Yolanda mengatakan platform Rumah Pendidikan juga mempermudah guru dalam menyiapkan materi ajar. Berbagai bahan pembelajaran yang tersedia di fitur Ruang GTK dan Ruang Murid dapat dimanfaatkan sebagai referensi sesuai kebutuhan pembelajaran.
"Sebagai guru, manfaat bagi saya pribadi adalah saya sudah punya media ajar yang siap pakai sehingga sangat mempermudah guna menyiapkan pembelajaran," jelasnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan Rumah Pendidikan tidak hanya dilakukan saat proses belajar di sekolah. Guru juga membagikan tautan materi kepada peserta didik agar mereka dapat mempelajarinya kembali secara mandiri dari rumah.
"Anak-anak juga kita kasih link, mereka bisa akses juga kan di rumah, gitu,"tambahnya.
Meski demikian, Yolanda berharap materi pembelajaran di Rumah Pendidikan terus dilengkapi sehingga dapat menjangkau lebih banyak mata pelajaran.
"Ada pesan dari beberapa guru, karena sejauh ini belum semua mata pelajaran ter-input di dalam sistem. Jadi semoga kedepannya bisa semakin lengkap sehingga manfaat dari platform ini lebih dapat dirasakan manfaatnya oleh semua guru,"ucapnya.
Menanggapi masukan tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menegaskan bahwa berbagai masukan dari guru menjadi bahan penting bagi pemerintah dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Ia menyebut pemanfaatan Rumah Pendidikan merupakan bagian dari implementasi program Digitalisasi Pembelajaran yang menjadi salah satu prioritas pemerintah.
"Jadi ini salah satu realisasi program Digitalisasi Pembelajaran dari Presiden Prabowo Subianto. Agar adik-adik semua dapat mengikuti pembelajaran, semua mata pelajaran dengan cepat dan efektif,"ungkap Atip.
Menurut Atip, pemanfaatan teknologi juga mengubah cara peserta didik memahami materi pelajaran. Jika sebelumnya pembelajaran lebih banyak mengandalkan penjelasan guru, kini siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih nyata melalui media digital.
"Pembelajaran kini mulai bergeser, dari yang sebelumnya hanya mengandalkan penjelasan guru menjadi menghadirkan pengalaman belajar yang lebih nyata. Dulu, saat saya SMP, materi hanya dijelaskan. Sekarang peserta didik bisa melihatnya secara langsung,"imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Atip juga menyampaikan bahwa inovasi Rumah Pendidikan telah memperoleh pengakuan internasional. Platform tersebut meraih predikat Winner atau juara pertama kategori e-Government pada ajang World Summit on the Information Society (WSIS) Prizes 2026 yang diselenggarakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui International Telecommunication Union (ITU) di Jenewa, Swiss.
"Rumah Pendidikan ini ternyata sudah mendapat penghargaan sebagai aplikasi pendidikan terbaik di dunia. Ini adalah penghargaan untuk kita semua dari ITU, International Telecommunication Union, yang berpusat di Jenewa, Swiss,"tegasnya.
Di akhir kunjungannya, Atip mengingatkan bahwa perkembangan teknologi bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan menjadi alat pendukung dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
"Teknologi bukan pengganti guru. Peran Bapak dan Ibu guru tidak akan tergantikan karena guru tidak hanya berperan sebagai teacher, tetapi juga counselor. Guru bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan juga mendidik dan memberikan teladan,"tuturnya.









