TVRINews, Jakarta
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) mendorong pemanfaatan pangan lokal di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, sebagai sumber pangan bergizi sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat.
Upaya tersebut dilakukan melalui program Sagu Sapa atau Sajian Gizi Unggul, Lestarikan Pangan Lokal. Program ini mengajak kader kesehatan dan pelaku UMKM mengembangkan bahan pangan yang mudah ditemukan di sekitar masyarakat, seperti pisang, keladi, petatas, dan sagu.
Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot UNDIP, Prof. Dr. Diana Nur Afifah, mengatakan program Sagu Sapa dirancang agar pengetahuan dan keterampilan yang diberikan dapat terus dimanfaatkan masyarakat setelah pelatihan berakhir.
"Para kader diharapkan dapat menjadi penggerak yang meneruskan pengetahuan dan keterampilan ini kepada keluarga dan masyarakat, sementara pelaku UMKM dapat mengambil peran dalam mengembangkan inovasi pangan lokal menjadi produk yang layak dipasarkan," ujar Prof. Diana dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 26 September 2026.
Dalam program tersebut, berbagai pangan lokal diolah menjadi empat produk inovatif. Pisang diolah menjadi Sapa Bronana atau brownies pisang, keladi menjadi Sapa Boladi atau bolu keladi, petatas menjadi Sapa Kita atau cookies petatas, serta sagu dan gula merah menjadi Sapa Sagara atau cookies sagu.
Pengolahan tersebut memberikan alternatif pemanfaatan pangan lokal yang selama ini lebih banyak dikonsumsi secara sederhana. Dengan inovasi pengolahan, bahan pangan yang tersedia di sekitar masyarakat dapat memiliki nilai tambah sekaligus potensi untuk dikembangkan sebagai produk usaha.
Salah satu kader Posyandu Kampung Woslay SP 2, Mama Mery, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan memberikan pengetahuan baru yang dapat diteruskan kepada masyarakat lainnya.
"Mungkin selama ini kami mengolahnya seadanya saja. Kami sangat bersyukur dengan adanya kegiatan ini karena bisa menambah ilmu baru. Mudah-mudahan apa yang kami dapat bisa kami bagikan lagi kepada saudara atau teman-teman yang juga berminat," kata Mama Mery.
Pemanfaatan pangan lokal melalui program Sagu Sapa juga diarahkan untuk mendukung pemenuhan gizi keluarga dan pencegahan stunting. Kader kesehatan diharapkan dapat meneruskan edukasi mengenai pemanfaatan pangan lokal, sementara pelaku UMKM dapat mengembangkan produk olahan tersebut menjadi peluang usaha.
Upaya ini sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap pemenuhan gizi sebagai bagian dari peningkatan kualitas sumber daya manusia. Presiden RI, Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan pentingnya memastikan masyarakat, khususnya anak-anak, mendapatkan pemenuhan gizi yang baik.
"Saya tidak ingin membiarkan masih ada rakyat Indonesia yang hidup dalam kelaparan atau anak-anak yang kehilangan masa depan akibat kekurangan gizi," tegas Presiden Prabowo dalam pidatonya pada puncak HUT ke-28 PAN di Jakarta, 18 September 2026.
Sementara itu, Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara juga menekankan pentingnya peserta TEP menghadirkan manfaat yang dapat terus dirasakan masyarakat. Ia meminta peserta ekspedisi tidak hanya menghasilkan laporan penelitian, tetapi juga meninggalkan karya dan solusi.
"Jangan hanya meninggalkan laporan. Tinggalkan karya. Tinggalkan solusi. Dan yang paling penting, tinggalkan manfaat yang terus dirasakan masyarakat," pesan Menteri Iftitah dalam arahannya pada 21 September 2026.
Melalui Sagu Sapa, TEP UNDIP mendorong agar potensi pangan lokal Senggi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Selain membantu pemenuhan gizi keluarga, inovasi pengolahan pangan tersebut diharapkan membuka peluang ekonomi baru dan memperkuat kemandirian pangan masyarakat di kawasan transmigrasi.










