TVRINews, Jakarta
Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar mendorong para imam memperkuat peran sebagai ambassador perdamaian dan jembatan kemanusiaan di tengah berbagai konflik dan tantangan global.
Menurut Nasaruddin, imam memiliki posisi strategis dalam membangun dialog dan meredam ketegangan karena memiliki kedekatan serta intensitas komunikasi yang tinggi dengan masyarakat. Hal itu disampaikannya saat membuka International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 di Jakarta, Sabtu, 26 September 2026.
"Kehadiran imam untuk menjadi ambassador perdamaian. Mari kita menjadikan masjid sebagai meeting point," ujar Nasaruddin dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 26 September 2026.
Kemudian Nasaruddin mengatakan, imam bertemu dengan umat secara rutin melalui berbagai aktivitas keagamaan. Intensitas tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk membangun kesadaran masyarakat sekaligus menyampaikan pesan-pesan perdamaian.

"Peranan imam sangat penting, sebab imam inilah yang paling intensif berkomunikasi dengan umat. Kurang lebih lima kali sehari semalam para imam berjumpa dengan umat, bahkan melampaui seringnya pemerintah atau pimpinan-pimpinan ormas yang lain berjumpa dengan umat," katanya.
Karena itu, ia mendorong agar kepemimpinan imam tidak hanya berfokus pada aspek ritual, tetapi juga diperluas ke ruang sosial dan kemanusiaan.
Nasaruddin menilai pendekatan formal belum selalu mampu menyelesaikan konflik berkepanjangan di berbagai kawasan dunia. Untuk itu, pendekatan melalui bahasa moral dan kemanusiaan dapat menjadi salah satu alternatif dalam mempertemukan pihak-pihak yang berkonflik.
"Diplomasi formal ternyata tidak berhasil menghentikan peperangan. Imam berusaha untuk menawarkan satu solusi lain, mari kita melakukan pendekatan lain. Bagaimana kita mendekati antar para pihak dengan menggunakan bahasa moral, menggunakan bahasa kemanusiaan," ucapnya.
Kemanusiaan Jadi Titik Temu
Lebih lanjut, Nasaruddin menekankan bahwa kemanusiaan dapat menjadi titik temu bagi masyarakat yang memiliki perbedaan agama, etnis, maupun kebangsaan.
Menurutnya, rasa kemanusiaan merupakan nilai universal yang dimiliki setiap manusia. Karena itu, bahasa agama diharapkan dapat digunakan untuk menyentuh sisi kemanusiaan dalam merespons berbagai konflik regional maupun internasional.
"We believe humanity is only one, there is no colors. Kemanusiaan itu hanya satu, rasa kemanusiaan itu tidak mengenal agama apapun, etnik manapun juga. Semua punya rasa kemanusiaan," tegasnya.
Ia berharap pendekatan tersebut dapat membantu meredam konflik dan ketegangan yang terjadi di berbagai belahan dunia.
"Mari kita sentuh persoalan konflik regional internasional ini dengan menggunakan bahasa kemanusiaan. Mudah-mudahan bahasa agama ini bisa meredam konflik, bisa meredam ketegangan, dan kehadiran imam untuk membahasakan hal ini sangat strategis dan sangat penting," ungkapnya.
Dorong Kepedulian Lingkungan
Selain perdamaian antarmanusia, Nasaruddin juga mendorong para imam menggunakan bahasa agama untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Ia meminta pendekatan keagamaan turut digunakan untuk menyadarkan masyarakat serta para pengelola sumber daya alam agar mencegah kerusakan lingkungan dan eksploitasi yang melampaui batas.
"Mari kita juga menggunakan bahasa agama untuk menyadarkan warga masyarakat, warga manusia untuk mencegah terjadinya kerusakan alam yang sedemikian dahsyat ini," imbuhnya.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari pembahasan ekoteologi dalam IGIC 2026. Nasaruddin memandang masjid dapat dikembangkan sebagai ruang yang mempertemukan kepentingan keagamaan dengan persoalan kemanusiaan dan lingkungan.
Kementerian Agama juga berencana memperluas semangat IGIC melalui pertemuan dengan para pemimpin rumah ibadah dari agama lain. Forum lintas agama tersebut akan diarahkan untuk membahas berbagai persoalan kemanusiaan yang menjadi perhatian bersama.
"Insyaallah kelanjutan daripada International Grand Imam Conference ini, kami juga akan menggagas pertemuan dengan pimpinan-pimpinan rumah-rumah ibadah lain non-muslim, pimpinan-pimpinan Katolik, gereja, rumah-rumah ibadah yang lain. Mari kita undang duduk bersama, karena tema sentral kita semua umat beragama adalah sama," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga memperkenalkan gagasan ukhuwah makhluqiyah, yakni persaudaraan sebagai sesama makhluk.
"Bahkan ada satu ukhuwah selain ukhuwah basyariyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah Islamiyah. Ada satu konsep ukhuwah yang lain mungkin perlu kita kembangkan, ukhuwah makhluqiyah. Persaudaraan kita sebagai sesama makhluk," jelasnya.
49 Delegasi dari 39 Negara Hadir
IGIC 2026 mempertemukan para pemimpin keagamaan dari berbagai negara untuk membahas kontribusi kepemimpinan agama terhadap persoalan kemanusiaan dan perdamaian global.
Ketua Panitia IGIC 2026, M Sabilul Alif mengatakan, hingga pembukaan konferensi telah terkonfirmasi 49 delegasi internasional dari 39 negara.
"Hari ini telah terkonfirmasi 49 delegasi internasional dari 39 negara yang terdiri atas para Grand Imam, Grand Mufti, serta tokoh agama dari berbagai kawasan dunia," kata Sabilul Alif.
IGIC 2026 berlangsung pada 25–28 September 2026 dengan mengusung tema "Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace".
Konferensi tersebut membahas peran masjid dalam membangun harmoni, diplomasi keagamaan, perdamaian global, serta potensi ekonomi kemasjidan.










