TVRINews, Semarang
Perum Perhutani bersama PT PG Rajawali I dan PT PG Rajawali II memperkuat sinergi menghadapi musim tebang dan giling 2026. Memasuki tahun ketiga kerja sama pemanfaatan kawasan hutan untuk pengembangan tebu, ketiga perusahaan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program selama dua tahun terakhir guna memastikan target produksi sesuai Rencana Penyelenggaraan Kerja Sama (RPKS).
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan strategis yang berlangsung di Gedung Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah, Semarang, Rabu, 17 Juni 2026. Pertemuan itu menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi dan menjaga keberlanjutan kemitraan yang berkontribusi terhadap peningkatan produksi gula nasional.
Direktur Operasi Perum Perhutani, Natalas Anis Harjanto, mengatakan berbagai dinamika selama dua tahun terakhir menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan musim giling 2026 berjalan lebih optimal.

“Memasuki tahun ketiga kemitraan ini, kami ingin memastikan seluruh kekurangan pada periode sebelumnya dapat disempurnakan. Fokus kami adalah memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai target dan timeline yang telah disepakati dalam RPKS,” ujar Natalas, dalam keterangan yang diterima, pada Kamis, 18 Juni 2026.
Salah satu perhatian utama adalah akses jalan menuju lokasi produksi. Untuk itu, Administratur (ADM) dan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) diminta segera menyelesaikan administrasi serta mengusulkan perbaikan sejumlah ruas jalan yang selama ini menghambat mobilitas armada pengangkut hasil panen.
“Kami memahami masih terdapat keterbatasan anggaran, namun itu tidak boleh menghambat operasional. Dengan optimalisasi sumber daya yang ada, titik-titik jalan yang sulit diharapkan dapat segera diperbaiki sehingga mendukung kelancaran distribusi dan pengangkutan hasil panen,” katanya.
Natalas menambahkan, prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan kondisi iklim pada 2026 cenderung lebih mendukung dengan musim kemarau yang lebih panjang. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang untuk mempercepat pekerjaan di lapangan.
“Seluruh tahapan kami targetkan selesai tepat waktu. Kami juga terbuka terhadap berbagai solusi atas hambatan di lapangan. Namun opsi pengalihan pekerjaan kepada mitra lain hanya akan menjadi pilihan terakhir apabila target benar-benar tidak dapat dipenuhi,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT PG Rajawali I, Daniyanto, menegaskan kerja sama dengan Perhutani memberikan manfaat besar bagi peningkatan kapasitas produksi perusahaan.
“Kontribusi Perhutani sangat besar terhadap peningkatan kapasitas giling kami yang pada 2025 mencapai 9,5 juta kuintal. Karena itu, kami berkomitmen memenuhi seluruh kewajiban secara tepat waktu dan menjaga kemitraan ini agar semakin kuat,” ujarnya.
Menurut Daniyanto, fenomena La Nina pada tahun lalu membuat sebagian tebu di sejumlah KPH belum dapat dipanen secara maksimal. Namun, proyeksi musim kemarau yang lebih panjang pada pertengahan hingga akhir 2026 memberikan optimisme terhadap peningkatan rendemen dan pendapatan.
“Kondisi cuaca yang lebih baik menjadi peluang untuk memperoleh kualitas tebu yang lebih optimal. Walaupun produktivitas tahun ini diperkirakan sedikit menurun akibat dampak hujan berkepanjangan sebelumnya, kami optimistis hasil yang dicapai akan tetap positif. Koordinasi perencanaan tebang dan angkut juga akan kami lakukan lebih awal agar pasokan bahan baku ke sejumlah pabrik dapat terjaga,” katanya.
Kebutuhan bahan baku tersebut akan menopang operasional sejumlah pabrik gula di Malang, Kebon Agung Baru, Madiun, hingga Madu Baru Yogyakarta.
Direktur Utama PT PG Rajawali II, Ardian Wijanarko, menilai peningkatan volume tebu giling dalam beberapa tahun terakhir perlu diimbangi dengan peningkatan produktivitas di tingkat KPH.
“Fokus kami saat ini adalah menjaga stabilitas produksi dan meningkatkan produktivitas. Pengalaman adanya beberapa wilayah yang sempat bermitra dengan pihak lain menjadi pelajaran penting. Ke depan, kami berharap seluruh pihak dapat kembali bersatu sehingga tidak terjadi tumpang tindih maupun kendala operasional di lapangan,” kata Ardian.
Saat ini, kemitraan Perhutani dan PG Rajawali mencakup lahan seluas lebih dari 2.523 hektare di berbagai wilayah Pulau Jawa. Luasan tersebut terdiri atas 104 hektare bersama PG Jati Tujuh di Jawa Barat dan Banten, 94,47 hektare bersama PG Tersana Baru di Jawa Tengah, 338,61 hektare bersama PG Rejo Agung Baru di Jawa Tengah, serta 1.986,55 hektare di Jawa Timur.
Kemitraan tersebut menjadi salah satu penopang penting industri gula nasional sekaligus mendukung pemanfaatan kawasan hutan secara produktif dan berkelanjutan. Dengan dukungan kondisi iklim yang lebih baik serta koordinasi yang semakin kuat, kerja sama Perhutani dan PG Rajawali diharapkan mampu menjaga pasokan bahan baku industri gula nasional sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kawasan hutan dan kesejahteraan masyarakat.








