TVRINews, Jakarta
Kementerian Kesehatan mencatat 50.890 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama periode Juli hingga Agustus 2026, di tengah potensi peningkatan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di sejumlah wilayah.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, mengatakan data tersebut dihimpun melalui sistem surveilans yang melibatkan dinas kesehatan, rumah sakit, puskesmas, serta fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
“Untuk total kumulatif kasus ISPA dari bulan Juli sampai Agustus yang tadi saya sebutkan, 50.890 kasus,”kata Andi dalam keterangan yang diterima tvrinews, Selasa, 1 September 2026.
Dari total tersebut, 12.600 kasus terjadi pada kelompok usia di bawah lima tahun, sedangkan 38.291 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.
“Di bawah usia lima tahun yaitu sebanyak 12.600 dan di atas lima tahun itu sebesar 38.291,”jelasnya.
Andi menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel halus, terutama PM2,5, serta karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun yang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.
Paparan asap tersebut dapat menyebabkan ISPA dengan gejala seperti batuk, pilek, radang atau nyeri tenggorokan, hingga demam. Asap karhutla juga dapat memicu kekambuhan pada penderita asma dan memperburuk kondisi penderita penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK.
Kemenkes terus berkoordinasi dengan dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota, rumah sakit, serta puskesmas untuk memantau perkembangan kasus dan mendeteksi secara dini dampak kesehatan akibat karhutla.
Pemantauan juga dilakukan terhadap kelompok rentan, terutama anak-anak dan bayi, ibu hamil, penderita asma dan PPOK, serta masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.









