TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat kerja sama strategis dengan Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) untuk mendukung keselamatan dan keamanan di wilayah perairan Indonesia.
Komitmen tersebut dibahas dalam audiensi Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, bersama Kepala Bakamla RI Laksamana Madya TNI Irvansyah, di Kantor Pusat Bakamla RI, Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan kerja sama kedua lembaga yang berlandaskan Nota Kesepahaman Nomor MoU/019/KB/DN/VIII/2024 perlu terus dikembangkan melalui langkah yang lebih konkret dan operasional.
Kerja sama tersebut meliputi pemanfaatan data dan informasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta penggunaan sarana dan prasarana. Selama ini, kolaborasi telah dilakukan melalui pertukaran informasi secara berkala dan pemanfaatan data pemantauan untuk mendukung kegiatan operasional kedua lembaga.
“Sinergi BMKG dan Bakamla RI telah berjalan baik melalui pemanfaatan data, sarana prasarana, serta peningkatan kapasitas SDM. Ke depan, pertukaran data secara timbal balik menjadi ruang kolaborasi yang sangat penting untuk diperkuat demi efektivitas operasi serta keselamatan laut,” ujar Faisal dalam keterangan tertulis, dikutip, Selasa, 1 September 2026.
Menurut Faisal, BMKG memiliki data meteorologi dan oseanografi yang diperoleh melalui sistem observasi, pemantauan, serta pemodelan prakiraan. Sementara Bakamla RI memiliki informasi mengenai pemantauan keamanan dan pergerakan kapal.
Integrasi kedua jenis data tersebut dinilai dapat menghasilkan layanan informasi maritim yang lebih spesifik dan sesuai dengan kebutuhan pengguna di lapangan. Salah satu peluang kerja sama yang dibahas ialah integrasi data cuaca dan kondisi laut BMKG dengan data Automatic Identification System (AIS) mengenai pergerakan kapal milik Bakamla RI.
Integrasi itu dapat digunakan untuk mengidentifikasi kapal yang berada di wilayah berisiko, membantu perencanaan patroli, hingga mendukung pengembangan sistem peringatan dini berdasarkan lokasi kapal.
Kedua lembaga juga membahas peluang penyinergian High-Frequency Radar (HF Radar) milik BMKG dengan Over-the-Horizon Radar (OTHR) milik Bakamla RI. HF Radar BMKG digunakan untuk memantau arus permukaan dan dinamika laut secara mendekati waktu nyata.
Informasi tersebut dapat mendukung pemantauan wilayah laut, operasi pencarian dan pertolongan (SAR), serta membantu konfirmasi dan validasi kondisi laut terkait potensi tsunami.
Ke depan, teknologi HF Radar dan OTHR diharapkan dapat saling melengkapi sehingga pemantauan kondisi laut dan deteksi objek di perairan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.
Dalam audiensi tersebut, Plt. Direktur Meteorologi Maritim BMKG Agie Wandala Putra turut memaparkan perkembangan teknologi pengamatan maritim dan kapasitas komputasi yang dimiliki BMKG.
Ia menyebut perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam sistem pengamatan maritim. Pengamatan yang sebelumnya banyak dilakukan secara manual kini didukung teknologi modern, termasuk pemanfaatan data AIS dan jaringan observasi maritim.
“Sekarang dengan teknologi sekarang, data AIS dan sebagainya, lompatan 20 tahun yang lalu dengan sekarang, teknologi kelautan ini sudah luar biasa maju,” ungkap Agie.
Saat ini, kemampuan pengamatan maritim BMKG didukung oleh pengamatan pesisir, pengamatan in situ di laut, serta teknologi penginderaan jauh. BMKG juga telah memasang vessel Automatic Weather Stations pada 40 kapal yang melayani jalur pelayaran rutin untuk memperkuat ketersediaan data pengamatan di wilayah laut.
Selain itu, BMKG memiliki kapasitas komputasi sebesar 5 petaflops di Kemayoran, Jakarta, yang digunakan untuk mengoperasikan model coupling atau pemodelan terintegrasi antara atmosfer dan samudra.
Menurut Agie, Indonesia menjadi negara pertama di kawasan Asia Pasifik yang memiliki model coupling terintegrasi antara atmosfer dan samudra.
Data dan pemodelan maritim tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari memproyeksikan wilayah tangkapan ikan potensial bagi masyarakat pesisir, mendukung operasi SAR, hingga memantau pergerakan debris dan tumpahan minyak di laut.
BMKG juga tengah menyiapkan pengembangan generasi terbaru Indonesian Weather Information for Shipping (InaWIS). Platform tersebut dapat dikembangkan sesuai kebutuhan operasional Bakamla RI untuk mendukung keselamatan dan keamanan pelayaran.
Kepala Bakamla RI Laksamana Madya TNI Irvansyah menyambut positif berbagai peluang kolaborasi yang ditawarkan BMKG. Ia menilai teknologi dan informasi yang dipaparkan dapat mendukung pelaksanaan tugas kedua lembaga di wilayah perairan.
“Saya lihat materinya banyak sekali yang bisa kita kolaborasikan. Itu sangat bermanfaat pasti, karena kita mainnya di air juga,”kata Irvansyah.
Irvansyah menekankan pentingnya informasi meteorologi dan oseanografi dalam aktivitas pelayaran. Ia mengingat pengalamannya berlayar menggunakan KRI Dewaruci menuju Amerika Serikat, termasuk Hawaii dan San Francisco, ketika informasi arus dan angin menjadi faktor penting dalam menentukan arah pelayaran.
“Pengalaman saya pribadi waktu berlayar ke Amerika, ke Hawaii sampai San Francisco naik KRI Dewaruci, itu sangat-sangat penting peta arus,” tuturnya.
Menurutnya, kapal layar sangat bergantung pada informasi arah angin dan arus untuk menentukan rute serta pergerakan kapal, terutama dalam pelayaran jarak jauh. Ia juga menilai informasi cuaca dan kondisi laut yang disediakan BMKG semakin akurat dan membantu pelaut mengantisipasi potensi gelombang.
Lebih lanjut, Irvansyah mendorong agar informasi maritim, seperti prakiraan tinggi gelombang, arus, dan peringatan tsunami, dapat disebarkan melalui lebih banyak saluran agar mudah diakses masyarakat, terutama nelayan dan pengguna jasa kelautan.
Ia mengusulkan informasi BMKG dapat diintegrasikan dengan laman resmi Bakamla RI dan diperluas penyebarannya melalui media penyiaran nasional.
Selain itu, jajaran stasiun dan kapal Bakamla RI di berbagai daerah didorong membangun komunikasi langsung dengan unit pelaksana teknis BMKG setempat guna memperkuat koordinasi dan pertukaran informasi di tingkat operasional.
Audiensi tersebut akan ditindaklanjuti melalui pembahasan teknis, termasuk perumusan langkah integrasi InaWIS milik BMKG dengan National Maritime Security System (NMSS) milik Bakamla RI.
Melalui pertukaran data dan informasi, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan layanan maritim, BMKG dan Bakamla RI berupaya meningkatkan pemantauan wilayah perairan untuk mendukung efektivitas operasi sekaligus keselamatan dan keamanan laut Indonesia.









