TVRINews, Jakarta
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan konservasi Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, terus digencarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim gabungan. Operasi darat dan udara dikerahkan secara terpadu demi mengendalikan titik api yang masih tersisa.
Berdasarkan data terbaru dari laman resmi BNPB pada Minggu, 25 Oktober 2026, karhutla yang melanda sejak 22 September lalu kini menyisakan area terbakar seluas kurang lebih 40 hektare. Sebelumnya, pada Jumat, 23 Oktober 2026, tim di lapangan berhasil menjinakkan api di atas lahan seluas sekitar 10,2 hektare.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa strategi pemadaman ditempuh melalui dua jalur utama guna mempercepat penanganan di lapangan.
"Operasi pemadaman udara dilaksanakan menggunakan helikopter Sikorsky Black Hawk UH-60L melalui dua sortie water bombing. Sementara itu, pemadaman darat melibatkan unsur pengelola TNWK, TNI, Polri, BPBD, mitra konservasi, masyarakat, serta unsur pendukung lainnya," ujar Berton dalam keteranga rilis, Minggu, 25 Oktober 2026.
Dalam pelaksanaannya, tim darat dibagi menjadi empat satuan tugas spesifik. Mereka bertugas melakukan pemantauan udara via drone, memadamkan api di kawasan rawa gambut, mendistribusikan air serta memasang selang menuju titik api, hingga melakukan penanganan lanjutan di titik B dan titik D.
Perjuangan petugas di lapangan juga didukung penggelaran selang penyalur air sepanjang sekitar tiga kilometer.
Kendati demikian, operasi penanganan ini tidak lepas dari berbagai tantangan berat. Berton menyebutkan bahwa vegetasi yang rapat dan kering, embusan angin kencang, serta sulitnya akses menuju lokasi menjadi hambatan utama. Terlebih lagi, jarak sumber air berjarak sekitar 1,5 kilometer dari titik kebakaran.
"Karakteristik lahan gambut juga menyebabkan api berpotensi bertahan di lapisan bawah tanah dan kembali muncul meskipun pemadaman sebelumnya telah dilakukan," tambahnya.
Sebagai langkah pendukung, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) turut digelar menggunakan pesawat Cessna Caravan pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Sebanyak dua sortie penyemaian garam (natrium klorida) masing-masing seberat 1.000 kilogram disebar di langit Taman Nasional Way Kambas dan Kabupaten Lampung Barat, yang terpantau sukses memicu turunnya hujan ringan.
Sebelumnya, Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal telah melakukan peninjauan udara menggunakan helikopter pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Dari pantauan visual, kepulan asap tebal dan sejumlah titik api masih terlihat di sekitar kawasan TNWK.
"Tadi setelah saya tinjau dari udara, memang ada beberapa titik api yang perlu mendapatkan perhatian, kita sudah mengatur untuk Way Kambas ini ada pasukan darat yang dibagi berdasarkan daerah operasi supaya pemadamannya lebih efektif," ungkap Kristomei.
Operasi terpadu ini melibatkan sedikitnya 350 personel gabungan dari unsur TNI, Polri, BPBD, Damkar, satuan tugas TNWK, BMKG, hingga para mitra konservasi. Guna memaksimalkan hasil, Kepala BNPB mengapresiasi inovasi taktis yang diterapkan di lapangan.
"Kita lihat juga tadi sudah dicoba dengan cara menggunakan selang sepanjang 3 kilometer ini, ternyata hasilnya cukup efektif, nanti kita akan perbanyak lagi luasan operasi pemadamannya, sehingga diharapkan dapat memadamkan lebih banyak lagi dan hasilnya terukur," pungkas Kristomei.
Ke depan, BNPB bersama pemerintah daerah berkomitmen untuk terus memprioritaskan penanganan di titik B, titik D, serta kawasan rawa gambut, seraya siaga mengantisipasi dinamika cuaca guna menekan perluasan dampak karhutla di kawasan konservasi tersebut.










