TVRINews, Jakarta
Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 19 ribu titik panas terpantau secara nasional, dengan Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan penanganan intensif.
Data pemantauan BNPB hingga 23 Oktober 2026 pukul 15.00 WIB menunjukkan terdapat 19.708 titik panas dengan total luas lahan terdampak kebakaran mencapai 41.554 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 26.681 hektare dilaporkan masih belum padam.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan perubahan kondisi karhutla di berbagai daerah mengharuskan petugas terus menyesuaikan strategi penanganan.
Menurutnya, penurunan jumlah titik panas di suatu wilayah tidak selalu menunjukkan kebakaran telah berhasil diatasi. Pemantauan lanjutan diperlukan untuk memastikan tidak ada api yang kembali menyala.
“Tren hotspot dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa kondisi karhutla masih dinamis. Ada penurunan di sejumlah wilayah, tetapi di wilayah lain titik panas dan luas kebakaran justru meningkat,” ujar Berton dalam keterangan resmi yang dikutip dalam laman resmi BNPB, Minggu, 25 Oktober 2026.
Ia menegaskan, upaya penanganan harus tetap berjalan sampai kondisi lapangan benar-benar aman.
Kalteng Catat Luas Kebakaran Belum Padam Terbesar
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan kebutuhan penanganan paling menonjol dalam data BNPB. Terdapat 13.297 titik panas dengan luas kebakaran sekitar 25.942 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 19.076 hektare masih belum padam.
Sumatera Selatan juga menjadi perhatian karena sekitar 2.187 hektare lahan masih memerlukan penanganan. Sementara itu, Jambi mengalami peningkatan luas kebakaran yang belum padam, dari 377 hektare menjadi 716 hektare dibandingkan hari sebelumnya.
Berton menyampaikan bahwa perkembangan di setiap daerah berbeda-beda sehingga penanganan harus disesuaikan dengan situasi aktual di lapangan.
Di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur, sejumlah indikator menunjukkan perbaikan dibandingkan hari sebelumnya. Meski demikian, petugas tetap diminta melanjutkan patroli dan pendinginan untuk mengantisipasi kemunculan kembali api.
“Pemadaman, pendinginan, dan patroli tetap harus dilanjutkan untuk mencegah api kembali menyala,” jelas Berton.
Puluhan Ribu Personel Dukung Operasi Karhutla
Untuk mengendalikan kebakaran, BNPB bersama unsur terkait menjalankan operasi terpadu melalui pengerahan petugas darat, helikopter water bombing, pesawat patroli, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Pada 22 Oktober 2026, dukungan penanganan tercatat melibatkan 71.878 personel darat dan 58 armada udara.
OMC menggunakan bahan semai dry ice dan natrium klorida (NaCl) juga dilaksanakan di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Di sebagian wilayah Kalimantan Tengah, operasi tersebut dilaporkan disertai hujan. Sementara di Sumatera Selatan, terdapat laporan peningkatan jarak pandang dan penurunan konsentrasi PM2,5.
Namun, BNPB mengingatkan bahwa perubahan kondisi cuaca maupun kualitas udara tidak otomatis menandakan seluruh sumber kebakaran telah berhasil dipadamkan.
“Hasil ini tetap perlu dievaluasi dan tidak boleh dianggap sebagai bukti bahwa seluruh sumber api telah padam,” kata Berton.










