TVRINews, Banjarbaru
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), A. Muhaimin Iskandar mendorong pesantren dan santri mengambil peran lebih besar dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya untuk mengurangi kemiskinan dan memperkuat kemandirian ekonomi umat.
Muhaimin mengatakan, pesantren memiliki potensi besar untuk mendorong terwujudnya masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Peran santri tidak hanya terbatas pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga perlu diperkuat melalui pengembangan keterampilan, pengetahuan, dan kewirausahaan. Hal itu disampaikan di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu, 24 Oktober 2026.
"Di situlah umat Islam, para santri, dan para kiai akan terus berkontribusi. Bukan saja menjadi bagian dari sejarah, tetapi kita akan terus-menerus menciptakan sejarah-sejarah baru, yaitu mengurangi dan menghentikan kemiskinan di tanah air, menciptakan masyarakat yang mandiri, kokoh, berjaya, serta makmur dan sejahtera," ujar Muhaimin dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, dikutip dari siaran pers, Minggu, 25 Oktober 2026.
Menurut Muhaimin, kemiskinan dan ketertinggalan merupakan tantangan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, santri, alumni pesantren, dan masyarakat sekitar perlu terlibat dalam berbagai upaya pemberdayaan yang dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan mereka.
Indonesia memiliki lebih dari 40.000 pesantren yang berpotensi menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan keterampilan, menumbuhkan kewirausahaan, serta menggerakkan ekonomi lokal.
Muhaimin menegaskan, penguatan kemandirian ekonomi merupakan bagian dari perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan yang bermakna. Masyarakat perlu memiliki kesempatan dan kemampuan untuk keluar dari kemiskinan, mengembangkan potensi diri, serta memperoleh penghidupan yang lebih baik tanpa terus bergantung pada bantuan.

Lebih lanjut, ia juga mengingatkan bahwa semangat pemberdayaan tersebut sejalan dengan nilai perjuangan para ulama dan santri yang tercermin dalam Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.
"Santri, para alumni pesantren, dan masyarakat muslim akan terus berkontribusi bagi terwujudnya Indonesia Emas, Indonesia yang mandiri, kokoh, dan siap bersaing dengan negara-negara lainnya," ucapnya.
Melalui momentum Hari Santri Nasional 2026, Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat mendorong agar semangat perjuangan santri diwujudkan melalui aksi nyata dalam membangun masyarakat yang berdaya.
Perjuangan tersebut dilakukan melalui upaya memutus rantai kemiskinan, memperkuat kemandirian ekonomi umat, dan mengoptimalkan potensi pesantren untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang makmur dan sejahtera.










