TVRINews, Banda Aceh
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, menegaskan keseriusan pemerintah dalam memperluas akses siswa Indonesia ke perguruan tinggi terbaik dunia melalui Program Sekolah Garuda.
Ia menilai, jika program tersebut menjadi langkah konkret dalam menjawab keterbatasan akses dan pendampingan yang selama ini dihadapi banyak pelajar. Penegasan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja ke SMA 10 Fajar Harapan yang telah berstatus Sekolah Garuda Transformasi.
Selain itu, ia menjelaskan jika program ini dirancang untuk memperkuat kesiapan siswa, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari aspek profil dan daya saing global.
Ia menyebut, jika saat ini hasil Sekolah Garuda mulai terlihat. Di mana, jumlah siswa yang berhasil menembus perguruan tinggi top dunia mengalami peningkatan signifikan dalam waktu relatif singkat.
“Sebelum bergabung menjadi Sekolah Garuda Transformasi, hanya satu siswa dari Fajar Harapan yang berhasil diterima di Top 100 World University. Pada tahun ini, setelah mendapatkan program Garuda Transformasi, ada empat belas siswa yang mendapatkannya,” jelas Wamen Stella kutip Minggu, 10 Mei 2026.
Menurut Stella, capaian tersebut merupakan hasil dari strategi yang terintegrasi, mulai dari pendampingan intensif hingga pembukaan akses ke jejaring internasional. Ia menilai, potensi siswa Indonesia sebenarnya sangat besar, namun belum sepenuhnya terfasilitasi.
Pada kesempatan tersebut, para siswa mengaku program ini memberikan dampak nyata terhadap kesiapan mereka melanjutkan studi ke luar negeri.
Tak hanya itu, pendampingan yang diberikan dinilai mampu membuka perspektif baru sekaligus meningkatkan kepercayaan diri.
Fathina Almahira Sakhi, salah satu siswa yang telah mengantongi Letter of Acceptance (LoA) dari delapan perguruan tinggi dunia, mengungkapkan pengalamannya selama mengikuti program.
“Saya merasakan bagaimana rasanya benar-benar dipersiapkan untuk (kuliah) di luar negeri. Jadi saya juga merasa bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar dari program ini,” tutur Fathina.
Hal serupa diungkapkan M. Kafka. Ia menyoroti intensitas pembinaan yang tetap berjalan meski sempat terkendala bencana hidrometeorologi di Aceh.
“Karena persiapan yang cukup intensif dan dibantu oleh guru-guru hebat. Alhamdulillah, kami bisa mencapai prasyarat yang diperlukan,” tutur Kafka menutup pertemuan para siswa yang telah menerima LoA dengan Wamen Stella.
Wamen Stella menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk peran guru dan tenaga kependidikan. Ia menyebut kontribusi terbesar justru datang dari para siswa itu sendiri.
“Kita buka kan aksesnya, tetapi tentu saja kalau hanya kami sendirian tidak bisa. Upaya yang kami lakukan ini mungkin hanya sekitar 30 persen, 70 persennya itu berasal dari adik-adik sendiri,” tutur Wamen Stella.
Di sisi lain, Pemerintah Aceh juga menunjukkan dukungan melalui percepatan pembangunan SMA Garuda di Aceh Utara. Langkah ini ditandai dengan diterbitkannya Surat Keputusan oleh Dinas Pendidikan Aceh.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, berharap kehadiran Sekolah Garuda dapat melahirkan generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat global.
“Karena itu harapan kami kepada SMA Garuda dan Garuda Transformasi adalah lahirnya generasi-generasi baru Aceh. Generasi yang mampu membaca, mengolah, mendistribusikan, dan memberi nilai tambah kepada produk-produk lokal. Generasi yang mampu membawa Aceh masuk ke dalam ekonomi global dan menjadi bagian penting dari kekuatan ekonomi Indonesia,” tegas Kadis Murthalamuddin.










