TVRINews, Jakarta
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional menemukan adanya pencemaran lima jenis logam berat pada sedimen dasar laut di kawasan Teluk Jakarta. Temuan tersebut menunjukkan tingginya tekanan lingkungan akibat aktivitas manusia di wilayah pesisir dan perkotaan sekitar teluk.
Kelima logam berat yang terdeteksi yakni seng (Zn), tembaga (Cu), nikel (Ni), timbal (Pb), dan kadmium (Cd). Konsentrasi logam ditemukan lebih tinggi di wilayah pesisir yang berdekatan dengan kawasan padat penduduk, area industri, serta muara sungai.
Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN, Idha Yulia Ikhsani, mengatakan pencemaran logam berat di Teluk Jakarta merupakan dampak langsung dari aktivitas antropogenik yang terus meningkat di kawasan Jabodetabek.
“Teluk Jakarta merupakan kawasan pesisir yang sangat penting dari sisi ekonomi, perikanan, transportasi, dan permukiman. Namun, urbanisasi dan industrialisasi yang berkembang pesat memberikan tekanan besar terhadap kualitas lingkungannya,” ujar Idha dalam keterangan yang dikutip, Minggu, 10 Mei 2026.
Menurut Idha, sedimen dasar laut berfungsi sebagai tempat akumulasi berbagai polutan yang masuk ke perairan. Karena logam berat sulit terurai secara alami, sedimen yang tercemar dapat menjadi sumber pencemaran jangka panjang.
“Logam berat dapat kembali terlepas ke kolom air dan memengaruhi organisme laut yang hidup di dasar perairan,” katanya.
Dalam penelitian tersebut, tim BRIN menggunakan sejumlah metode analisis lingkungan seperti Enrichment Factor (EF), Geoaccumulation Index (Igeo), Contamination Factor (CF), dan Pollution Load Index (PLI) untuk mengukur tingkat pencemaran.
Hasil penelitian menunjukkan seng menjadi salah satu logam dominan di Teluk Jakarta. Dalam kadar rendah, seng dibutuhkan organisme sebagai ko-enzim, namun pada konsentrasi tinggi dapat bersifat racun.
Selain seng, kandungan timbal dan tembaga di beberapa titik pengamatan juga tercatat telah melampaui ambang batas tertentu berdasarkan standar internasional.
Idha menjelaskan, sumber pencemaran logam berat berasal dari berbagai aktivitas manusia, seperti kegiatan pelabuhan dan perkapalan, limbah industri, limbah domestik perkotaan, limpasan kawasan padat penduduk, hingga residu pertanian.
“Berbagai limbah tersebut terbawa aliran sungai dan bermuara ke Teluk Jakarta sebelum akhirnya mengendap di sedimen laut,” ujarnya.
Sementara itu, peneliti BRIN lainnya, Lestari, menilai tingkat risiko pencemaran menggunakan metode Risk Assessment Code (RAC). Metode ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar logam berat berpotensi terlepas ke lingkungan dan masuk ke rantai makanan.
“Penelitian menunjukkan seng di hampir seluruh stasiun pengamatan memiliki potensi tinggi terserap organisme laut dan masuk ke rantai makanan,” kata Lestari.
Ia menambahkan, logam berat yang terakumulasi dalam tubuh organisme laut dapat membahayakan kesehatan manusia apabila dikonsumsi secara terus-menerus.
“Kerang, kepiting, dan biota bentik lainnya berpotensi mengakumulasi logam berat. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan,” ujarnya.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Rachma Puspitasari, juga menemukan adanya potensi risiko nonkarsinogenik bagi manusia akibat akumulasi kadmium pada jaringan kerang hijau.
“Pencemaran logam berat bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan keamanan pangan masyarakat pesisir dan konsumen hasil laut,” kata Rachma.
BRIN menilai penanganan pencemaran di Teluk Jakarta perlu dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir. Upaya tersebut meliputi pengendalian limbah industri, peningkatan sistem pengolahan limbah domestik, pemantauan rutin kualitas sedimen dan biota laut, pengawasan sungai yang bermuara ke teluk, serta edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan pesisir.










