TVRINews, Jakarta
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat mengatakan perempuan Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan struktural dan kultural, yang membutuhkan keberanian luar biasa untuk mengatasinya.
Ia mengungkapkan bahwa jumlah perempuan di Indonesia mencapai hampir separuh populasi nasional, sekitar 140 juta jiwa atau 49,9 persen. Namun, yang bekerja hanya sekitar 55 persen dari populasi perempuan, sementara laki-laki yang bekerja mencapai 84 persen.
Lebih memprihatinkan, 61 persen dari perempuan bekerja di sektor yang tidak mendapatkan perlindungan dan jaminan sosial. Upah perempuan juga lebih rendah jika dibandingkan dengan laki-laki pada posisi yang sama.
"Perempuan itu berhadapan dengan tembok kaca. Tembok kaca di mana dia harus memiliki keberanian luar biasa untuk mampu mendobraknya," ujar Rerie, sapaan akrabnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Minggu, 10 Mei 2026.
Dari sisi keterwakilan politik, Legislator dari Partai NasDem itu mengungkapkan bahwa komposisi perempuan di DPR RI saat ini secara umum baru mencapai 22 persen.
Rerie mengungkapkan, meski Partai NasDem sudah menempatkan lebih dari 30 persen caleg perempuan dalam tiga kali pemilu terakhir, hambatan masih banyak ditemui.
"Sulit sekali mencari perempuan yang siap. Ada yang bersedia, tapi belum bisa diterima oleh pemerintah. Suaminya siap, keluarganya tidak memberikan izin," jelas Anggota Komisi X DPR RI itu.
Rerie menegaskan bahwa masalah utama perempuan bukanlah kapasitas, melainkan struktur yang belum adil terhadap perempuan, serta masih adanya bias budaya patriarkis.
"Stereotip bahwa perempuan tidak mampu mengambil keputusan penting masih mengakar. Padahal, ketika perempuan diberikan kesempatan, banyak bukti bahwa perempuan mampu berada di depan," tegasnya.
Menurut Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, kunci untuk mewujudkan perubahan adalah peningkatan pendidikan di segala aspek. Ia juga menekankan bahwa perempuan harus berani menjadi tidak sempurna.
"Saya sering ditanya kunci perempuan bisa maju. Saya bilang perempuan itu harus mau menjadi tidak sempurna. Kita dituntut serba bisa, tapi kita harus berani melepas itu," ujar Rerie.
Rerie menegaskan bahwa Indonesia tidak kekurangan perempuan hebat. Yang kurang adalah ruang, perlindungan, perhatian, dan keberanian dari perempuan sendiri untuk mendobrak tembok kaca.
"Membela perempuan adalah sebuah keharusan. Bicara tentang perempuan, memposisikan perempuan, sebetulnya kita sedang bicara agenda peradaban bangsa," pungkas Rerie.










