TVRINews, Jakarta
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempercepat transformasi layanan kesehatan melalui pengembangan teknologi bedah robotik sebagai bagian dari transformasi teknologi kesehatan nasional. Langkah ini dilakukan dengan menyiapkan pengadaan 40 unit robot bedah untuk rumah sakit pemerintah, membangun ekosistem kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), memperluas pelatihan dokter, hingga mendorong alih teknologi guna memperkuat kemandirian industri alat kesehatan dalam negeri.
Komitmen tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat menghadiri peringatan hampir 1.000 tindakan bedah robotik di Rumah Sakit Bunda Jakarta sekaligus peluncuran kolaborasi strategis antara Kementerian Kesehatan, Rumah Sakit Bunda, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Menurut Budi, robotik menjadi salah satu dari tiga teknologi kesehatan prioritas yang dikembangkan Kemenkes bersama kecerdasan artifisial dan bioteknologi. Teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan kualitas pelayanan medis melalui operasi yang lebih presisi, rasa nyeri yang lebih ringan, serta masa pemulihan pasien yang lebih singkat.
"Robotik adalah tren global. Teknologi ini memberikan kualitas layanan yang lebih baik bagi pasien, operasi lebih presisi, nyeri lebih ringan, dan masa rawat lebih singkat. Tugas pemerintah adalah memastikan layanan ini semakin mudah diakses, berkualitas, dan biayanya semakin terjangkau,"ujar Menkes Budi dalam keterangan tertulis, dikutip, Selasa, 28 Juli 2026.
Menkes mengakui pemanfaatan bedah robotik di Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan. Karena itu, pemerintah mengambil berbagai langkah untuk mempercepat penerapannya, salah satunya melalui pembentukan Komite Robotik Kementerian Kesehatan yang akan menyusun arah pengembangan teknologi robotik, mulai dari standar pelayanan, kebutuhan teknologi, hingga strategi agar layanan lebih terjangkau.
Selain itu, Kemenkes juga tengah mengkaji skema pembiayaan bersama BPJS Kesehatan agar tindakan bedah robotik dapat masuk ke dalam sistem pembiayaan nasional sehingga akses masyarakat terhadap layanan tersebut semakin luas.
Sebagai tahap awal, Kemenkes memperkuat layanan bedah minimal invasif melalui program pelatihan operasi laparoskopi bagi dokter bedah di 514 kabupaten dan kota. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dokter dalam melakukan berbagai operasi modern, seperti hernia, usus buntu, kantung empedu, dan tindakan bedah digestif lainnya.
"Kita ingin semakin banyak dokter Indonesia memiliki kompetensi bedah minimal invasif dan robotik. Jangan sampai kemampuan ini hanya dimiliki kelompok tertentu atau hanya tersedia di kota-kota besar,"jelasnya.
Pengembangan bedah robotik juga diarahkan untuk mendukung pemanfaatan AI di sektor kesehatan. Kemenkes saat ini tengah membangun tiga basis data nasional yang terintegrasi, yakni data kependudukan, data klinis, dan data genomik. Nantinya, data tindakan bedah robotik juga akan dihimpun sebagai bahan pengembangan sistem AI yang membantu dokter meningkatkan akurasi pengambilan keputusan klinis.
"AI bukan menggantikan dokter, tetapi menjadi augmented intelligence yang membantu dokter mengambil keputusan berdasarkan pembelajaran dari ribuan hingga jutaan data klinis,"lanjutnya.
Untuk mendukung keberlanjutan program tersebut, Kemenkes juga akan mewajibkan adanya transfer teknologi dalam pengadaan robot bedah, khususnya untuk produksi komponen habis pakai (consumables) di dalam negeri. Kebijakan ini diharapkan mampu menekan biaya layanan sekaligus memperkuat industri alat kesehatan nasional.
Di sisi lain, pusat pelatihan bedah robotik juga akan diperluas ke berbagai wilayah agar pengembangan kompetensi dokter tidak hanya terpusat di satu daerah.
Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara mengatakan Indonesia memiliki potensi besar dalam riset teknik biomedis, biomekanika, robotika, dan AI. Menurutnya, kolaborasi antara akademisi dan tenaga medis menjadi faktor penting dalam menghasilkan inovasi teknologi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
"Fasilitasi dari Kementerian Kesehatan sangat penting agar peneliti dan dokter dapat bekerja bersama mengembangkan teknologi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Dengan kolaborasi ini, kami optimistis Indonesia mampu menghasilkan inovasi alat kesehatan yang berdaya saing global,"ungkap Tatacipta.
Sementara itu, Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk Ivan Rizal Sini menyebut pencapaian hampir 1.000 tindakan bedah robotik merupakan hasil pengembangan layanan bedah minimal invasif yang telah dilakukan selama lebih dari satu dekade. Rumah Sakit Bunda, kata dia, siap mendukung program pemerintah melalui pengembangan pusat pelatihan dan transfer pengetahuan kepada dokter dari berbagai daerah.
"Kami percaya pengalaman harus dibagikan. Semakin banyak dokter Indonesia yang menguasai bedah robotik, semakin besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat," kata Ivan.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan industri, Kementerian Kesehatan menargetkan Indonesia menjadi salah satu pusat pengembangan teknologi bedah robotik di kawasan sekaligus memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.









