TVRINews, Surakarta
Soroti lukisan cadas tertua dunia berusia 67.800 tahun, Kementerian Kebudayaan masukkan seni rupa sebagai prioritas Manajemen Talenta Nasional.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, hadir secara langsung untuk menutup rangkaian pameran bertajuk “Alam dan Lingkungan Hidup” di Galeri Seruni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Acara ini sekaligus menjadi momentum penutupan resmi bagi program residensi Belajar Bersama Maestro (BBM) bidang Seni Lukis tahun 2026 yang diampu oleh empu seni lukis senior, I Gusti Nengah Nurata.
Dalam sambutannya di hadapan para akademisi, seniman, dan mahasiswa, Menteri Fadli Zon menegaskan bahwa kekayaan budaya Indonesia merupakan modal kultural (cultural capital) yang luar biasa dan disegani di tingkat global.
Ia bahkan menyoroti bukti sejarah purbakala yang menempatkan Indonesia sebagai rumah bagi karya seni lukis cadas tertua di dunia yang diperkirakan berusia 67.800 tahun.

(Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon (tengah). [Foto: TVRINews/HO-Kemenbud])
“Ini membuktikan bahwa nenek moyang kita telah memiliki ekspresi budaya kontemporer di zamannya. Nilai dan akar budaya inilah yang harus dipahami dan diteruskan oleh generasi muda kita untuk membawa seni rupa Nusantara menjadi arus utama di panggung global,” tegas Menbud Fadli Zon dalam keterangan resminya, Kamis, 27 Agustus 2026.
Penguatan Seni Rupa dalam Manajemen Talenta Nasional (MTN)
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam memajukan sektor seni rupa, Kementerian Kebudayaan kini menempatkan seni rupa sebagai salah satu prioritas utama dalam Manajemen Talenta Nasional (MTN).
Pemerintah terus mendorong agar karya-karya seniman lokal mampu menembus kancah internasional, salah satunya dibuktikan melalui partisipasi aktif Indonesia dalam ajang seni rupa bergengsi dunia Venice Biennale yang berlangsung hingga November 2026, serta rencana strategis revitalisasi Galeri Nasional agar menjadi ruang pamer yang lebih representatif.
Program Belajar Bersama Maestro (BBM) Seni Lukis 2026 sendiri telah sukses memfasilitasi 10 seniman muda terpilih dari 5 institusi pendidikan seni terkemuka di Indonesia. Berlangsung sejak 15 Juli hingga 15 Agustus 2026, para peserta menjalani pembimbingan intensif selama 30 hari penuh di bawah asuhan Empu I Gusti Nengah Nurata.
Sang maestro menekankan bahwa esensi pendidikan seni tidak hanya berhenti pada aspek teknis penciptaan nilai artistik dan estetik, melainkan berfokus pada pembangunan karakter, moral, serta kedalaman filosofi karya yang berkepribadian bangsa.
Refleksi “Alam dan Lingkungan Hidup” dalam Karya Seni
Pameran hasil residensi ini mengangkat tema khusus “Alam dan Lingkungan Hidup”. Pilihan tema ini merefleksikan kesadaran kritis bahwa alam bukan sekadar objek representasi visual semata, melainkan ruang esensial bagi kehidupan yang membentuk manusia beserta kebudayaannya.
Melalui goresan kuas para seniman muda, masyarakat diajak merenungkan kembali hubungan harmonis antara manusia dan alam, sekaligus menjadikannya sebagai kampanye kultural bahwa menjaga lingkungan adalah bagian integral dari merawat kebudayaan bangsa.
Rektor ISI Surakarta menyampaikan apresiasi tinggi kepada Kementerian Kebudayaan atas sinergi yang terbangun, di mana kampus dapat berfungsi sebagai ruang strategis bertemunya tradisi, inovasi, para maestro, dan generasi muda penerus bangsa.
Lebih lanjut, Fadli Zon menyampaikan apresiasi mendalam kepada Empu I Gusti Nengah Nurata atas dedikasinya dalam mewariskan pengetahuan dan kearifan lokal.
Melalui program BBM, Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk konsisten mengawal pelindungan akar budaya dan pewarisan nilai luhur demi mengukuhkan posisi seni rupa Indonesia di kancah internasional.










