TVRINews, Jakarta
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 221,23 miliar dolar AS. Capaian tersebut meningkat 5,58 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan peningkatan ekspor secara kumulatif tersebut terutama ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas.
"Untuk nilai ekspor migas tercatat sebesar USD 8,96 miliar atau turun sebesar 9,11 persen. Sementara untuk nilai ekspor nonmigas tercatat naik sebesar 6,30 persen dengan nilainya USD 212,27 miliar,"kata Ateng dalam keterangan yang diterima tvrinews, Senin, 2 November 2026.
Ateng menjelaskan, peningkatan ekspor nonmigas terutama berasal dari kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati dengan kode HS15, nikel dan barang daripadanya dengan kode HS75, serta kelompok HS21.
Di sisi lain, perkembangan ekspor Indonesia juga dipengaruhi kondisi pasar komoditas global. Pada September 2026, harga sejumlah komoditas di pasar internasional secara umum menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan harga secara tahunan maupun bulanan terjadi pada kelompok pertanian, energi, serta logam dan mineral. Pada kelompok pertanian, peningkatan harga terutama didorong oleh kenaikan harga minyak kelapa sawit.
Sementara itu, kenaikan harga komoditas energi terutama dipengaruhi peningkatan harga minyak mentah dan batu bara. Harga batu bara kualitas tinggi di pasar internasional tercatat meningkat 38,38 persen secara tahunan. Adapun batu bara kualitas sedang dan rendah naik 6,39 persen.
Untuk kelompok logam dan mineral, kenaikan harga secara tahunan terutama didorong oleh peningkatan harga emas, meskipun secara bulanan harga logam mulia mengalami penurunan.
Selain perkembangan harga komoditas, aktivitas manufaktur negara mitra dagang utama Indonesia juga menunjukkan kondisi ekspansif pada September 2026.
Hal tersebut tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Amerika Serikat sebesar 55,9, India 55,1, Jepang 54,1, dan Tiongkok 52,1.









