TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) akan menggelar Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 pada 10-13 November 2026 mendatang di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Di mana, acara tersebut akan menghadirkan sekitar 500 produk hasil riset perguruan tinggi dari berbagai daerah.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fauzan Adziman, mengatakan jika ratusan produk yang akan dipamerkan merupakan hasil seleksi dari sekitar 850 usulan produk riset yang diajukan perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
“Sudah sekitar dua bulan terakhir kami melakukan survei ke kampus-kampus di seluruh Indonesia. Hasilnya ada sekitar 850 produk yang kemudian kami kurasi. Sekarang sudah dalam perjalanan ke Surabaya sekitar 490 produk, sehingga ada sekitar 500 produk yang bisa dilihat masyarakat,” ujarnya di Jakarta pada Senin, 2 November 2026.
Lebih lanjut, ia menerangkan jika KSTI tak hanya menjadi ajang pameran hasil penelitian, tetapi juga mempertemukan para inventor, inovator, dan investor. Melalui pertemuan tersebut, hasil riset diharapkan dapat berkembang menjadi produk yang dimanfaatkan masyarakat maupun industri.
Dalam penyelenggaraannya, Kemendiktisaintek bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Danantara Indonesia, serta Asian Development Bank (ADB).
Ia menyebut, pameran akan mengedepankan dua aspek utama, yakni persoalan yang dihadapi masyarakat dan solusi yang dikembangkan melalui riset perguruan tinggi.
Sejumlah inovasi yang akan ditampilkan antara lain teknologi untuk penyandang disabilitas, seperti kursi roda balap berbahan serat karbon yang dikembangkan Universitas Negeri Yogyakarta, mesin Braille thermoforming untuk membantu penyandang tunanetra memahami informasi dalam bentuk gambar, serta pengembangan prostesis modern.
Selain itu, pengunjung juga dapat melihat pengembangan kendaraan listrik oleh ITS, riset teknologi kereta cepat melalui konsorsium, serta pesawat tanpa awak atau UAV VTOL Palapa S-1 yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada untuk mendukung pemetaan, mitigasi bencana, pencarian dan pertolongan (SAR), serta patroli.
Inovasi lainnya mencakup alat deteksi dini asap dan api Defisa dari Politeknik Negeri Banjarmasin, teknologi pendukung diagnosis dini demam berdarah dari Universitas Indonesia, serta perangkat LUVIWASH dari Universitas Airlangga untuk fototerapi bayi kuning berbasis teknologi pintar.
Selain pameran, KSTI 2026 juga akan menghadirkan Robot Challenge dengan sejumlah kategori, di antaranya Robot IoT, Line Follower, Humanoid Penalty Kick, Robot SAR, Mini Soccer, Robot Sumo, hingga Mini Autonomous Vehicle berbasis kecerdasan buatan.
Kegiatan lain yang disiapkan adalah hackathon selama tiga hari dengan fokus pada pengembangan chip, power electronics, pertanian, dan teknologi digital. Hingga rapat koordinasi terakhir, jumlah peserta yang mendaftar telah mencapai sekitar 300 orang.
Untuk mendorong pemanfaatan hasil riset oleh industri, panitia juga menyiapkan agenda business matching. Ia juga menyebut, ada sebanyak 117 mitra industri telah menunjukkan ketertarikan untuk berpartisipasi, sementara sekitar 50 kerja sama telah mendapatkan komitmen hingga rapat koordinasi pada Jumat sebelumnya.
KSTI 2026 juga akan menghadirkan forum diskusi pakar yang membahas sejumlah isu strategis, mulai dari transisi energi, kemandirian pertahanan, teknologi masa depan, kebencanaan, hingga penguatan ekosistem riset nasional. Hasil diskusi diharapkan menghasilkan policy brief dan foresight sebagai masukan bagi perumusan kebijakan pemerintah.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari KSTI 2025 yang diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Pertemuan sebelumnya dihadiri sekitar 8.000 pengunjung dan menghasilkan peta jalan serta agenda riset nasional bersama BRIN untuk periode 2026 hingga 2030, serta arah pengembangan jangka panjang menuju 2035 dan 2045.
Dalam rangkaian KSTI tahun ini, ITS juga akan meresmikan Science Techno Park (STP) baru dengan nilai investasi sekitar Rp650 miliar. Fasilitas tersebut akan dibuka untuk umum melalui agenda Innovation Tour, sehingga masyarakat dapat melihat langsung pengembangan riset, teknologi, dan kolaborasi antara peneliti dengan industri.
Ia berharap KSTI dapat menjadi ruang pertemuan antara dunia akademik, industri, pemerintah, dan masyarakat, sekaligus mempercepat pemanfaatan hasil penelitian dalam menjawab kebutuhan nasional.









