TVRINews – New York
Ketahanan Nasional Indonesia Berakar dari Kemandirian Pangan dan Energi Domestik
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono menegaskan bahwa stabilitas dan kekuatan sebuah negara berakar langsung dari kedaulatan sektor-sektor strategis di dalam negeri. Pandangan tersebut disampaikan di hadapan forum internasional dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81.
Di tengah lanskap global yang sarat ketidakpastian, kepala diplomasi Indonesia tersebut memaparkan bahwa ketahanan nasional tidak dibangun atas dasar retorika, melainkan melalui kemandirian ekonomi masyarakat lapis bawah.
Menurutnya, fondasi keamanan negara bermula dari kesejahteraan keluarga, produktivitas petani, serta ketersediaan lapangan kerja yang layak bagi angkatan kerja domestik.
"Bagi Indonesia, ini berarti membangun kemandirian pangan yang lebih besar dan memperkuat ketahanan energi kita," ujar Sugiono dikutip senin 28 september 2026.
Lebih lanjut, Sugiono menjelaskan bahwa penguatan sektor pangan dan energi di tingkat nasional akan memberikan efek limpahan (spillover effect) yang positif bagi stabilitas kawasan regional maupun global.
Indonesia memposisikan diri tidak hanya sebagai subjek yang melindungi kepentingannya sendiri, tetapi juga sebagai kontributor aktif dalam menjaga pasokan pangan dunia serta mempercepat transisi energi hijau.
"Indonesia yang aman pangannya dapat berkontribusi lebih banyak terhadap ketahanan pangan regional dan global," jelas Sugiono. "Indonesia yang lebih tangguh energinya dapat berkontribusi lebih banyak pada transisi energi global."
Selain isu kedaulatan domestik, pidato tersebut juga menyoroti urgensi reformasi arsitektur multilateral. Sugiono mengingatkan para pemimpin dunia agar institusi internasional tidak terjebak dalam birokrasi yang kaku. Efektivitas lembaga multilateral diukur dari kemampuannya menghadirkan solusi nyata bagi krisis yang dihadapi masyarakat dunia.
"Sistem multilateral yang tidak dapat memberikan hasil akan kehilangan kepercayaan rakyat. Dan tanpa kepercayaan, multilateralisme tidak akan pernah bertahan," tutupnya.










