TVRINews, Jakarta
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan berbagai upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. BNPB menargetkan luasan area yang terbakar dapat terus ditekan hingga mencapai nol hektare.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, data penanganan karhutla bersifat dinamis karena sangat bergantung pada kondisi cuaca dan situasi di masing-masing wilayah.
"Kami berupaya untuk menurunkan ini bahkan sampai ke titik 0 sehingga tidak ada lagi (area) yang merah," ujar Berton dalam Konferensi Pers Perkembangan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan, Selasa 29 September 2026.
Menurut Berton, Kalimantan menjadi salah satu fokus penanganan BNPB karena masih terdapat luasan karhutla yang cukup tinggi. Upaya pemadaman berhasil dilakukan terhadap sekitar 255 hektare area terbakar.

Sementara itu, kondisi di sejumlah wilayah Sumatera menunjukkan perkembangan yang berbeda. Riau dan Jambi relatif terbantu oleh curah hujan alami yang cukup tinggi, selain adanya dukungan operasi modifikasi cuaca.
Berton menyebut, area yang masih ditangani di Riau kini relatif kecil. Pada saat penyampaian data tersebut, luasan yang ditangani sekitar 4,5 hektare.
Untuk mencapai target penekanan karhutla hingga nol hektare, BNPB mengerahkan Satgas Operasi Darat dan Satgas Operasi Udara. Sebanyak 56 unit helikopter dan pesawat dikerahkan, terdiri atas 13 unit untuk patroli dan misi serta 43 unit untuk operasi water bombing.
Operasi pemadaman juga menghadapi sejumlah kendala, khususnya di wilayah Kalimantan. Tantangan tersebut meliputi kebakaran lahan gambut, keterbatasan akses dan sumber air, angin kencang yang dapat mempercepat penyebaran api, serta kabut asap yang menurunkan jarak pandang.
Kemudian Berton menjelaskan, penanganan karhutla di lahan gambut membutuhkan upaya lebih karena api yang terlihat padam di permukaan belum tentu benar-benar mati.
"Padam di permukaan belum tentu padam di bawah. Jadi harus didinginkan," katanya.
Karena itu, BNPB melakukan sejumlah langkah seperti penyekatan, pendinginan, penempatan tangki air portabel, pemanfaatan pompa dan sumber air alternatif, hingga penggunaan peralatan untuk mendeteksi titik api yang berada di bawah permukaan tanah.
Selain pemadaman, BNPB juga terus memantau pertumbuhan awan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca. Pesawat dan peralatan penyemaian disiapkan agar dapat segera dikerahkan ketika kondisi awan memungkinkan.
Berton menegaskan, pelaksanaan operasi udara juga harus menyesuaikan kondisi jarak pandang dan atmosfer. Kabut asap menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat operasi water bombing maupun kegiatan penerbangan lainnya.
Di sisi lain, dampak kabut asap terhadap masyarakat turut menjadi perhatian. BNPB bersama pihak terkait melakukan pemantauan kualitas udara, sementara Kementerian Kesehatan menyalurkan masker melalui dinas kesehatan dan puskesmas. Sejumlah daerah juga menyiapkan rumah atau ruang oksigen bagi masyarakat yang membutuhkan.
Upaya pembelajaran jarak jauh juga dapat diterapkan secara situasional di wilayah yang terdampak kabut asap.
Dengan kombinasi pemadaman darat, operasi udara, dan modifikasi cuaca, BNPB terus berupaya menekan luasan karhutla hingga tidak lagi terdapat area terbakar yang harus ditangani.










